Malam turun lebih cepat di desa itu. Kabut tipis menggantung di antara batang-batang pohon pinus yang mengelilingi sebuah rumah tua di pinggir hutan. Rumah itu berdiri sendirian di atas tanah lapang yang dipenuhi rumput liar. Cat dindingnya telah mengelupas, jendelanya kusam, dan sebagian atapnya terlihat hampir runtuh.
Melly memandangi bangunan itu dari balik kaca mobil.
“Jadi ini tempatnya?” tanyanya.
Doni yang menyetir mengangguk. “Menurut arsip desa, rumah ini sudah kosong hampir tiga puluh tahun.”
“Aku masih nggak paham kenapa kampus menyetujui penelitian di tempat seperti ini,” gumam Siska.
“Kita mahasiswa antropologi. Rumah ini punya sejarah hilangnya satu keluarga tanpa jejak. Data lapangan seperti ini langka,” jawab Melly sambil meraih tas ranselnya.
Mereka berempat—Melly, Doni, Siska, dan Reza—datang untuk mengumpulkan data penelitian mengenai cerita rakyat dan legenda setempat. Selama beberapa hari mereka akan tinggal di rumah itu untuk mendokumentasikan berbagai kesaksian warga.
Saat pintu depan dibuka, udara dingin langsung menyergap. Bukan dingin biasa. Dingin yang terasa seperti sesuatu sedang memperhatikan mereka.
Lantai kayu berderit di bawah langkah kaki. Bau lembap memenuhi ruangan.
“Dengar nggak?” tanya Siska.
“Apa?”
“Kayak ada suara napas.”
Semua terdiam.
Hanya ada suara angin dari sela-sela dinding.
“Perasaanmu saja,” kata Doni.
Mereka mulai membersihkan ruang utama dan memasang peralatan penelitian. Kamera, alat perekam suara, laptop, dan beberapa lampu darurat diletakkan di atas meja tua yang hampir lapuk.
Menjelang malam, hutan di luar berubah menjadi lautan hitam. Tak ada lampu jalan. Tak ada rumah lain. Hanya mereka dan kegelapan.
***
Sekitar pukul sembilan malam, suara pertama terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Seolah seseorang mengetuk jendela. Reza berdiri dan menyingkap tirai.
Tidak ada siapa-siapa.
“Hewan mungkin,” katanya.
Namun beberapa menit kemudian suara itu terdengar lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini berasal dari jendela lain. Melly menoleh. Bayangan hitam melintas cepat di luar. Begitu cepat hingga ia ragu apakah benar-benar melihatnya.
“Kalian lihat?”
“Lihat apa?” tanya Doni.
“Seperti ada orang lewat.”
Mereka memeriksa halaman menggunakan senter. Kosong. Hanya pepohonan yang bergoyang pelan.
Ketika kembali masuk, Melly menyadari sesuatu. Pintu depan yang tadi tertutup kini terbuka sedikit. Padahal tidak ada seorang pun yang keluar.
***
Malam pertama berlalu dengan gelisah. Namun kejadian yang lebih aneh terjadi keesokan harinya. Saat memeriksa rekaman audio yang mereka buat semalaman, Siska memucat.
“Ada sesuatu.”
Ia memutar rekaman itu. Awalnya hanya suara angin. Lalu terdengar suara lain. Suara perempuan. Pelan. Berbisik.
“Pergi...”
Semua saling berpandangan.
Rekaman itu dilanjutkan.
“Pergi sebelum terlambat...”
Ruangan menjadi sunyi.
“Siapa yang bicara?” tanya Reza.
“Tidak ada yang berbicara tadi malam,” jawab Melly.
Mereka memutar ulang berkali-kali. Suara itu tetap ada. Sangat jelas. Sangat dekat. Seolah berada tepat di belakang mikrofon.
***
Hari kedua. Hutan terasa semakin tidak nyaman. Burung-burung hampir tidak bersuara. Udara menjadi lebih dingin meski matahari masih tinggi.
Saat Melly berjalan mengelilingi rumah untuk mengambil foto dokumentasi, ia menemukan sesuatu di belakang bangunan. Sebuah ayunan tua. Tali ayunan itu sudah lapuk. Namun kursinya bergerak perlahan. Maju. Mundur. Maju. Mundur. Padahal tidak ada angin.
Melly mengangkat kamera dan memotret. Saat melihat hasilnya, napasnya tercekat. Di belakang ayunan terdapat sosok samar. Seorang anak perempuan. Berdiri diam. Wajahnya pucat. Mata hitam pekat.
Ketika Melly menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa.
***
Malam kedua menjadi lebih buruk. Sekitar tengah malam, suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Krek.
Krek.
Krek.
Padahal tidak ada seorang pun di sana.
Mereka berkumpul di ruang tengah.
“Siapa yang naik?” tanya Doni.
“Tidak ada,” jawab Siska cepat.
Langkah itu terus bergerak. Perlahan. Seperti seseorang sedang berjalan mengitari kamar-kamar kosong.
Krek.
Krek.
Krek.
Lalu berhenti tepat di atas kepala mereka. Diam. Hening. Beberapa detik kemudian terdengar suara gesekan. Seperti sesuatu yang diseret.
Sreeeet...
Sreeeet...
Sreeeet...
“Ini nggak lucu,” bisik Reza.
Doni mengambil senter.
“Aku cek.”
“Aku ikut,” kata Melly.
Mereka menaiki tangga yang berderit keras.
Lantai atas gelap gulita. Sorotan senter menyapu lorong panjang yang dipenuhi debu. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Namun di ujung lorong, salah satu pintu terbuka perlahan.
Kreeeek...
Padahal tidak ada angin.
Melly merasakan bulu kuduknya berdiri. Mereka mendekati pintu itu. Di dalam hanya ada kamar kosong. Kecuali satu hal. Di dinding terdapat tulisan yang tampak baru. Dengan warna merah gelap.
KELUAR.
SEKARANG.
***
Keesokan paginya mereka memutuskan mewawancarai warga desa. Sebagian besar menolak bicara. Namun salah seorang pria tua akhirnya bersedia.
“Rumah itu tidak pernah benar-benar kosong,” katanya.
“Apa maksud Bapak?” tanya Melly.
Pria itu menatap hutan.
“Tiga puluh tahun lalu satu keluarga tinggal di sana. Suami, istri, dan anak perempuan mereka.”
“Lalu?”
“Mereka ditemukan meninggal.”
Melly terdiam.
“Semua?”
Pria itu mengangguk.
“Yang aneh, tidak ada tanda kekerasan.”
“Penyebabnya?”
“Tidak pernah diketahui.”
“Dan anak mereka?”
Wajah pria tua itu berubah.
“Anaknya hilang.”
“Hilang?”
“Sampai sekarang tidak ditemukan.”
Angin berembus dingin.
“Orang-orang bilang arwah anak itu masih mencari keluarganya.”
***
Malam ketiga. Mereka sepakat menyelesaikan penelitian dan pergi pagi harinya. Namun malam itu justru menjadi awal mimpi buruk. Pukul satu dini hari listrik darurat tiba-tiba mati. Rumah langsung tenggelam dalam kegelapan.
“Doni!” teriak Siska.
“Aku di sini!”
Suara mereka terdengar jauh meski berada dalam ruangan yang sama.
Melly menyalakan senter. Cahayanya berkedip-kedip. Di ujung ruangan berdiri seorang anak perempuan. Pucat. Diam. Mengenakan gaun putih lusuh.
Jantung Melly hampir berhenti. Sosok itu menatapnya. Lalu mengangkat tangan. Menunjuk ke arah tangga. Kemudian menghilang. Begitu saja.
Siska menangis. Reza gemetar.
“Ini nggak mungkin...”
Namun suara baru terdengar dari lantai atas. Tangisan. Tangisan seorang anak. Mereka saling memandang. Tanpa sadar berjalan mengikuti suara itu. Naik ke lantai dua. Melewati lorong. Menuju sebuah kamar yang sebelumnya terkunci. Kini pintunya terbuka. Di dalam terdapat lemari tua. Tangisan berasal dari sana.
Melly menarik napas. Lalu membuka pintu lemari. Di dalamnya ada kotak kayu kecil. Ia membukanya. Berisi foto keluarga yang telah menguning. Seorang ayah. Seorang ibu. Seorang anak perempuan.
Di balik foto terdapat tulisan tangan:
“Kami tidak akan meninggalkanmu.”
Tiba-tiba seluruh rumah bergetar. Pintu kamar membanting keras. Lampu senter mati. Dan suara tangisan berubah menjadi jeritan panjang.
Mereka berlari turun. Namun rumah terasa berbeda. Lorong menjadi lebih panjang. Tangga tampak tak berujung. Seolah bangunan itu berubah bentuk.
Suara langkah kaki mengikuti mereka. Cepat. Semakin cepat.
Duk.
Duk.
Duk.
Duk.
Melly menoleh.
Tidak ada siapa-siapa. Tetapi bayangan hitam menjulur di dinding. Panjang. Tidak wajar. Seperti tangan yang merayap.
“Lari!” teriak Doni.
Mereka berhasil mencapai pintu depan. Namun pintu itu tidak bisa dibuka. Terkunci. Padahal sebelumnya tidak pernah dikunci.
Suara jeritan semakin dekat. Rumah berguncang. Kayu-kayu berderit keras. Lalu tiba-tiba semuanya berhenti. Sunyi. Sangat sunyi.
Dan saat itulah Melly melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Foto keluarga yang tadi ditemukan kini berada di lantai. Namun wajah-wajah dalam foto telah berubah. Bukan keluarga asing. Melainkan wajah mereka. Doni. Siska. Reza. Dan dirinya sendiri.
***
Pagi datang tiba-tiba. Melly terbangun di ruang tengah. Cahaya matahari masuk melalui jendela. Tidak ada tanda kerusakan. Tidak ada jeritan. Tidak ada bayangan. Teman-temannya juga terbangun. Mereka saling menatap kebingungan.
“Semalam...” kata Siska.
“Ya,” jawab Melly.
Mereka segera membereskan barang. Tak ada yang ingin tinggal lebih lama. Namun ketika Melly mengambil kamera untuk terakhir kali, ia menemukan satu video yang tidak pernah mereka rekam. Durasi dua menit. Waktu perekaman menunjukkan tanggal tiga puluh tahun lalu.
Tangannya gemetar saat memutar video itu. Gambar buram memenuhi layar. Terlihat bagian dalam rumah yang sama. Lalu muncul seorang pria. Seorang wanita. Dan seorang anak perempuan. Keluarga yang tinggal di rumah itu. Mereka tampak ketakutan. Seolah sedang bersembunyi.
“Dia datang...” bisik wanita itu.
Kemudian kamera mengarah ke cermin besar. Melly membeku. Karena yang muncul di dalam pantulan cermin bukan keluarga itu. Melainkan empat mahasiswa. Dirinya. Doni. Siska. Dan Reza.
Mereka berdiri diam di belakang keluarga tersebut. Menatap tanpa ekspresi. Video berakhir mendadak.
Tak seorang pun berbicara. Tak seorang pun bernapas lega. Karena akhirnya mereka memahami sesuatu yang mengubah seluruh kejadian. Mereka bukan sedang meneliti rumah berhantu. Mereka bukan korban yang diteror arwah keluarga lama. Justru keluarga itulah yang selama ini diteror. Oleh mereka.
Selama tiga puluh tahun terakhir, rumah itu bukan menyimpan hantu keluarga yang mati. Rumah itu menyimpan gema waktu. Peristiwa yang terus berulang.
Dan setiap tiga puluh tahun, empat orang baru datang ke rumah itu, lalu tanpa sadar menjadi sosok-sosok bayangan yang menghantui penghuni masa lalu.
Suara langkah kaki. Bisikan. Bayangan di jendela. Tulisan di dinding. Semuanya berasal dari mereka sendiri. Bukan dari hantu. Bukan dari arwah anak yang hilang. Mereka adalah hantu yang dilihat keluarga itu tiga puluh tahun lalu.
Melly menatap layar dengan wajah pucat. Lalu perlahan menyadari satu hal yang lebih mengerikan. Di antara pantulan empat mahasiswa dalam video itu, ada sosok kelima. Seorang anak perempuan bergaun putih. Berdiri tepat di belakang mereka. Tersenyum.
Dan saat Melly mengangkat kepala dari layar kamera, ia melihat sosok yang sama berdiri di ujung lorong rumah. Diam. Menunggu. Seolah siklus itu belum benar-benar berakhir.