"Jika aku dimakan buaya, Pak, Bu. Tolong jangan bunuh buayanya karena dia tidak salah. Aku hanya menyatu dengan dirinya dan rawatlah dia seperti kau merawatku."
Dada Karlina serasa diremas dari dalam. Kertas itu koyak kecil di sudutnya, bergetar di telapak tangan Karlina yang mendadak hilang hangat. Bekas goresan pensil di sana bukan sekadar tulisan, melainkan cetak biru dari kepanikan anak delapan tahun berwarna hitam, tebal, dan agak melesak menembus serat kertas. Beberapa bagian tinta karbonnya sudah melar, larut oleh semacam cairan yang tak sempat kering.
Karlina meraba tepi kasur, lalu melipat lututnya.
Kamar Yuni masih menyimpan bau minyak kayu putih dan bau kaos kaki lembap. Seprai dengan motif kelopak mawar yang pudar di bagian tengah masih menyisakan lekuk tubuh anaknya. Di atas meja belajar, satu set pensil warna tercabut dari kotaknya, berserakan di sebelah buku gambar yang terbuka.
Di sana, seekor reptil berisik bersisik hijau zamrud digambar dengan mata terbelalak lebar, dikelilingi lengkung gelombang air yang kaku. Di bawah perut makhluk itu, huruf-huruf patah membentuk sebuah nama: Banyu.
Ujung jari Karlina tertahan di pupil buaya itu. Terasa ada residu lilin dari krayon yang menempel di sel kulit jarinya.
Dari balik dinding papan ruang depan, gemuruh suara Dahlan memantul. Suaranya pecah, bercampur dengan dengung percakapan tetangga dan derak lantai kayu yang diinjak belasan kaki. Pencarian sudah berlangsung semenit demi semenit, merayap bersama bayang-bayang yang memanjang di halaman.
Yuni belum juga bermuara.
Karlina melipat kertas itu dua kali. Menekannya ke telapak tangan hingga sudutnya yang tajam menancap ke garis tangannya.
"Yun..."
Nama itu menguap begitu saja, mengendap di sela-sela debu kamar.
Pagi tadi, lidah Karlina masih mengenali asin minyak goreng dan gurihnya telur dadar. Yuni duduk bertopang dagu, mendorong-dorong butiran nasi dengan ujung sendok seng hingga memicu dentang piring yang monoton.
"Makanannya tidak salah apa-apa, Yuni."
Gadis kecil itu mendongak. Tulang pipinya yang menonjol membuat matanya terlihat terlalu besar untuk wajah seukurannya.
"Nanti."
Karlina meletakkan potongan telur tepat di tengah gumpalan nasi. "Nanti itu tidak punya jam."
Yuni tidak menjawab dengan kata-kata. Ia malah tersenyum kecil, jenis senyum yang menyembunyikan sesuatu di balik giginya yang baru tanggal satu lalu kembali mencubit telur itu menggunakan jempol dan telunjuknya, membiarkan minyaknya mengilap di kulit jari.
Dahlan melangkah keluar dari kamar, kancing kemejanya menggantung lepas. Lelaki itu meneguk kopi hitamnya yang masih mengepul, melirik putrinya dari balik cangkir kaleng.
"Jangan tawar-menawar dengan sungai."
Yuni mengangguk cepat. Terlalu cepat, seolah-olah lehernya digerakkan oleh pegas yang terkejut.
Karlina sempat menangkap kilat aneh di manik mata anaknya sebelum gadis itu kembali menunduk, mengunyah dengan gerakan lambat yang dipaksa-paksakan.
Siang datang membawa lengket udara yang merambat ke tengkuk.
Karlina menyadari ketidakhadiran anaknya bukan dari suara, melainkan dari hening yang terlalu pekat. Kain jemuran di belakang dapur melambai tanpa ada tangan kecil yang biasanya menarik-narik bagian bawahnya.
Jalan tanah di balik rumah penuh dengan jejak akar paku yang mencuat. Karlina berlari, napasnya tersangkut di tenggorokan, mengikuti petunjuk tetangga yang melihat bayangan gaun merah muda menyelusup ke arah semak-semak.
Di tepi sungai, bau lumpur membusuk dan racun eceng gondok menyengat hidungnya.
Dahlan sudah di sana. Tubuh kaku suaminya tampak membatu di atas tanah becek. Di dekat tumitnya, tergeletak satu belah sandal karet berwarna biru. Bunga plastik di punggung sandal itu tertutup lapisan tanah basah.
Dahlan tidak menengok ketika Karlina mendekat. Kepalan tangannya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Lin..."
Hanya satu suku kata, tetapi membawa berat yang sanggup meremukkan sendi-sendi Karlina. Ia berlutut, meraih sandal itu. Dingin. Lumpur sungai masih meleleh pelan dari celah solnya.
Di seberang sungai, riak air membelah permukaan yang tenang. Seseorang berteriak bahwa ia baru saja melihat punggung bernapas milik seekor buaya muara.
Malam tidak membawa Yuni pulang, tetapi membawa rasa dingin yang menjalar dari telapak kaki ke dada.
Di kamar anaknya, Karlina menyisir tiap sudut dengan matanya yang memerah. Ia meraba bagian bawah bantal kapuk yang keras dan menemukan lipatan kertas itu.
Jika aku dimakan buaya...
Tulisan itu tidak memiliki racun, tetapi sanggup membuat pernapasannya terhenti seketika. Tidak ada permohonan ampun. Tidak ada rengekan takut. Hanya sebuah kompromi aneh yang ditawarkan seorang anak kepada takdirnya.
Ketika Dahlan membaca kertas itu di bawah pendar lampu teplok, bayangan hitam di wajah suaminya runtuh.
"Anak itu..." suara Dahlan serak, serasa ada pasir yang mengganjal di tenggorokannya. "Dia pikir hewan punya perasaan seperti manusia."
Karlina memeluk lututnya di atas kasur. "Dia tidak takut pada buayanya, Dahlan. Dia cuma takut kita membunuhnya."
Keesokan harinya, riak sungai membawa kembali rumor dan amarah.
Reptil raksasa itu terlihat mengapung pasif di antara pusaran eceng gondok. Warga berkumpul membawa tali tamparan, bambu runcing, dan parang yang terikat di pinggang. Amarah manusia selalu butuh muara, dan buaya itu adalah wadah yang paling mudah untuk ditumpahi.
"Jangan!" Karlina menyeruak di antara kerumunan, jemarinya mencengkeram lengan baju Dahlan. Kertas kusut itu ia acungkan dengan tangan bergetar. "Yuni melarang kita!"
Seorang warga menyeringai tipis, mengibaskan parangnya. "Ibu sudah gila? Itu binatang buas, bukan boneka!"
Namun, saat perahu kayu mendekat, tampaklah apa yang sebenarnya terjadi pada hewan itu. Seutas tali nilon tebal melilit kencang di antara leher dan pangkal kaki depannya, mengiris kulit tebalnya hingga meninggalkan luka membusuk. Di dekat tali itu, tersangkut selembar kain merah muda yang koyak, kain yang sangat dihafal Karlina.
Banyu tidak sedang berburu. Ia sedang sekarat.
Dan Yuni tidak pernah berada di dalam perutnya.
Jejak anak itu ditemukan tiga ratus meter di hilir, di balik tanah longsoran yang tertutup semak belukar.
Yuni terduduk di antara celah akar pohon kedondong hutan. Kaki kecilnya membiru, dipenuhi goresan lintah dan tanah kering. Baju merah mudanya robek di bagian bahu, tetapi matanya masih terbuka ketika mendengar lengkingan suara ibunya.
"Ibu..."
Karlina merengkuh tubuh yang gemetar itu, meresapi hangat kulitnya yang membuktikan bahwa jantung anaknya masih berdenyut. Dahlan berlutut, menimbun wajahnya di antara rambut Yuni yang berbau lumpur dan daun busuk.
Di rumah yang kembali riuh oleh bau minyak kayu putih, Yuni bercerita dengan suara lirih.
Ia tidak jatuh karena diterkam. Ia jatuh karena tanah tepi sungai yang rapuh amblas saat ia mencoba memotong tali nilon yang menjerat Banyu. Arus menyeretnya, dan ketika ia berhasil memanjat tebing lumpur, buaya itu hanya melintas di sampingnya, sama-sama terendam dalam arus yang dingin, dan sama-sama berusaha tidak tenggelam.
"Aku menulis surat itu karena takut Ibu marah kalau aku pergi ke sungai," bisik Yuni di atas pangkuan Karlina. "Aku pikir, kalau aku tidak pulang, Banyu yang bakal disalahkan."
Di luar, sungai terus mengalir, membawa sampah vegetasi dan sisa-sisa lumpur ke laut.
Karlina menyimpan kembali kertas kusut itu di dasar kotak perhiasan imitasinya. Tulisan pensil itu tidak lagi terasa seperti surat perpisahan, melainkan bukti betapa ringkihnya prasangka manusia saat berhadapan dengan alam.
Di kamar sebelah, napas Yuni terdengar teratur, naik turun seirama dengan detak dinding kayu rumah mereka. Karlina menyentuh kusen pintu, merasakan tekstur kayu yang kasar di telapak tangannya.
Dunia di luar sana mungkin penuh dengan gigi-gigi tajam dan arus yang tak terduga, tetapi malam ini, anak perempuan dengan jari-jari berminyak bekas telur goreng itu ada di sini. Masih tetap bernapas utuh.
“Sering kali, yang paling berbahaya bukanlah buasnya alam, melainkan air keruh yang berupa prasangka dan kebencian di dalam pikiran manusia itu sendiri.”
Sumenep, 23 September 2026
Penulis:
Ans Kaelan, merupakan nama pena dari Khoirul Umam, mahasiswa Hukum Ekonomi Syari’ah Universitas Annuqayah, Madura. Ia aktif sebagai penulis, editor, dan praktisi literasi. Hingga kini, ia telah terlibat dalam lebih dari 80 karya antologi berskala nasional dan internasional. Beberapa novel yang ditulisnya antara lain Biansagarta, Madura di Bawah Rintik Hujan, Nukilan Khadijahku, dan Khumaira di Istanbul. Ia juga menulis buku nonfiksi Dasar-Dasar Kepenulisan Fiksi Modern serta aktif sebagai penulis di Wattpad.