Oleh Audy Damayanti
Minggu pagi yang indah. Awan bersahabat, angin berhembus tenang. Ya, itulah kondisi hari itu ketika aku memandang langit yang cerah. Hari itu aku merasa sangat senang, entah apa yang membuatku merasakan hal itu. Tapi aku yakin, aku semakin bersemangat untuk memulai hari.
Seperti biasa, aku selalu mengerjakan tugas untuk besok, meskipun tugas itu sebenarnya sudah diberikan jauh hari. Menurutku, mengerjakan tugas mepet deadline adalah hal paling seru karena dengan begitu aku bisa mendapatkan lebih banyak ide. Tak sedikit juga orang yang beranggapan bahwa mengerjakan tugas harus segera agar tidak menumpuk. Ya, benar. Dengan tidak menunda, kita bisa lebih cepat selesai dan melanjutkan aktivitas berikutnya.
“Sudahlah, setiap orang itu punya ciri khasnya masing-masing, Nar,” ucap Risa.
“Iya sih, aku cuma ngomong aja.”
“Oh iya, Nar. Kamu jadi ikut nggak nanti hari Senin?”
“Ke mana? Ke perpus ya?”
“Iyaaa.”
“Boleh deh. Mau jam berapa?”
“Hmmm... pagi aja gimana? Jam 9 mungkin?”
“Boleh. Tapi jemput aku yaa...” Nara sedikit tertawa.
Selesai sudah tugas kami, dan kami berencana untuk pulang. Kali ini aku pulang sendirian. Tidak, sebenarnya aku memang selalu pulang sendirian. Tapi rencana itu aku batalkan dan berniat pergi ke stasiun. Entah kenapa aku memilih ke sana, padahal tidak ada niatan untuk pergi jauh. Seharusnya aku pulang dan beristirahat sejenak dari tugas-tugasku.
Aku singgah sejenak di kafe yang ada di dekat situ. Anehnya, aku melihat seseorang yang terasa sangat familiar.
“Risaa!” teriakku keras.
Risa menoleh ke arah suara itu. Ia cukup kaget bertemu denganku. Tidak, kami sama-sama kaget apalagi pembicaraan kami sebelumnya tidak sesuai dengan pertemuan ini.
“Kamu kok di sini? Katanya mau pulang.”
“Eh, Nar, iya. Kamu juga kok di sini?”
Begitulah kami saling melempar pertanyaan tanpa langsung menjawab. Biasalah, ya. Cewek, atau mungkin karena kami sama-sama kaget. Hahaha, lucu juga.
“Aku tadi memang mau pulang, cuma nggak tahu kenapa tiba-tiba malah ke sini.”
“Oh gitu ya.”
“Iyaa. Kamu sendiri?”
“Hmmm... aku... nggak tahu juga, mungkin sama kayak kamu,” ucap Risa, sedikit ragu.
“Wah, cukup aneh ya kita berdua.”
“Iyaa, Mbak. Kalian berdua aneh banget! Baru kali ini saya lihat spesies kayak kalian,” ucap seseorang heran, yang sejak tadi berdiri di samping kami.
Aku dan Risa pun tertawa lepas karena merasa ini lucu. Bagaimana bisa dua remaja yang berniat pulang setelah mengerjakan tugas malah berakhir di stasiun.
“Nar...”
“Ya?”
“Kita ke Surabaya aja gimana?”
“Eh? Tiba-tiba banget?”
“Iyaa, nggak apa-apa lah. Hitung-hitung healing.”
“Bentar. Emang bisa pesan tiket dadakan?”
“Bisaaa. Mau kan?”
“Ya udah deh, boleh.”
Akhirnya, kami benar-benar pergi ke sana. Sangat dadakan, tanpa persiapan apa pun. Hanya membawa tas berisi laptop, banyak buku, handphone, dan dompet. Walaupun tanpa dompet pun sebenarnya masih aman sih, asal ada handphone.
“Akhirnya sampai juga ya, Nar.”
“Iyaa, alhamdulillah walau dadakan,” ucap Nara sedikit kesal.
“Mau ke mana dulu? Makan?”
“Iyaa boleh. Laper tau.”
“Oke.”
Tanpa berlama, kami masuk ke warung makan. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada toko kelontong di seberang sana. Tanpa memberi tahu Risa, aku langsung menyeberang ke toko itu.
“Naraa! Kamu mau ke mana?”
“Bentar, duluan aja, Ris!”
“Ih, nih anak aneh banget sih. Main pergi aja. Heran,” gerutu Risa.
Sesampainya di toko, aku masuk dan melihat-lihat isinya. Banyak jajanan lawas dan mainan-mainan zaman dulu. Ah... rasanya seperti flashback ke masa kecil. Semakin dalam aku menelusuri setiap sudutnya, aku melihat sebuah pintu di ujung ruangan. Penasaran, aku berjalan mendekat.
Aku terkejut dengan apa yang kulihat. Tempat apa ini? Kok gelap? Samar terlihat dua orang berdiri dengan tatapan serius. Tapi... kenapa ada kasur seperti kasur pasien rumah sakit?
Aku menggeleng, mencoba tetap fokus. Mungkin aku hanya lelah setelah pulang dari kampus, langsung ke stasiun, dan mendadak pergi ke sini.
“Nara!” teriak Risa dari kejauhan. Ternyata ia mengikutiku.
“Kamu kenapa? Kok diam? Kayak orang kaget gitu. Kamu lihat apa?” tanya Risa penasaran.
“Eh, Ris... ngagetin aja. Kamu dari tadi ya?”
“Iyaa, aku dari tadi ngikutin kamu. Udah tahu laper mau makan, malah pergi ke mana-mana.”
“Iyaaa, maaf ya, Risa cantik.”
“Alah, Nar. Oh iya, kamu lihat apa sih?”
“Itu, Ris. Sini liat.” Aku mengajaknya mendekat.
“Nar...? Itu apa? Siapa?”
“Nah, aku juga nggak tau, Ris.”
“Ya ampun, Nar! Bisa-bisanya lihat beginian. Udah, balik aja yuk. Takut tau!”
“Yee, gitu doang takut. Belum sampai dalam loh, baru dari kejauhan.”
“Lagian kalau tiba-tiba orangnya noleh terus nanyain gimana? Mau jawab apa kita?”
“Iya... iya, yaudah. Balik. Kita makan.”
“Bener ya! Jangan pergi-pergi nggak jelas lagi!” tegas Risa.
Makanannya terasa nikmat sekali. Entah memang enak atau karena kami lapar. Setelah itu, aku mengajak Risa ke toko biru modern, berbeda dengan yang sebelumnya. Jujur, aku sendiri belum percaya kalau toko yang tadi ada ruangan anehnya.
“Kamu mau beli apa, Nar?”
“Aku mau beli kopi. Mau ikut?”
“Iyaa, aku mau beli juga.”
Kami keluar dari toko sambil menikmati kopi. Aku melamun, memikirkan hari ini hari yang sangat melelahkan tetapi sangat random. Banyak kejadian tak terduga. Mungkin akan dikenang, mungkin juga terlupakan.
Entahlah. Nikmati saja momennya selagi masih berjalan. Kuharap tak ada yang menggangguku. Aku ingin melihat semuanya sampai akhir, sampai kami kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Risa pergi lebih dulu karena melihat abang telur gulung di seberang.
Handphone-ku berdering, Risa menelepon.
“Halo, Nara...”
“Iya, Ris. Kenapa?”
“Kamu di mana?”
“Aku di toko biru. Kok nanya? Bukannya kamu tahu?”
“Hah? Gimana? Gimana?”
“Iya, aku bareng kamu kan. Habis beli kopi. Terus kamu pergi beli telur gulung.”
“Naraaaa!” teriak Risa.
“Eh... itu kamu, Ris?”
“Ya ampun! Iyaa, Naraaaa! Ini aku, Risa si paling cantik! Buruaaann!”
“Iyaa, iya bentar, Ris. Capek banget ini.”
“Ngapain coba? Padahal nggak ngapa-ngapain kok capek. Aneh banget.”
Aku tersenyum lebar mendengar ocehan itu. Ya, aku memang capek karena baru saja keliling bersamanya dari mengerjakan tugas, tiba di stasiun, ke toko kelontong, toko biru, beli kopi, dan melihatnya beli telur gulung kesukaannya.
Entah kenapa episode hari ini sangat random dan membuatku tersenyum kecil. Aku bangkit dari kasur lalu menuju kamar mandi untuk bersiap-siap. Ajakan Risa pergi ke perpus itu benar. Tapi aku tidak tahu sejak kapan aku tertidur.
Ah... benar saja, aku pulang dari kampus pukul 12 siang. Sejak itu, aku langsung merebahkan diri ke kasurku yang paling nyaman.