Retak

Cerpen ini bercerita tentang cinta, janji, dan kepercayaan yang retak akibat perselingkuhan, serta proses ikhlas untuk memilih diri sendiri.

Oleh Anggun Nirmala

Aku tidak kalah oleh cintamu, tapi aku kalah oleh kepercayaan yang kau patahkan diam-diam.

Dulu aku mengira cinta adalah tentang saling mengenggam, tak peduli seberapa lelahnya dunia mencoba memisahkan. Bersama Kael aku percaya bahwa cinta ini cukup kuat melawan jarak, waktu, bahkan rasa bosan, ... tapi ternyata aku salah.

Cerpen Retak

Hari itu kami bertemu di tempat biasa saja, sebuah taman dengan pemandangan city night, ditambahkan bintang-bintang dan lampu kelap-kelip. Menurutku itu adalah pertemuan kami sebelum akhirnya menjadi retak.

"Kamu percaya sama aku, kan?" Tanyanya suatu malam.

Aku mengangguk tanpa ragu "selama kamu nggak mengecewakanku, aku selalu percaya padamu".

Ia tersenyum dan menggenggam tanganku ’"aku janji nggak bakal bikin kamu kecewa, udah cukup selama ini kamu khawatirin aku, sekarang giliran aku yang bakal berusaha buat jagain kamu".

Janji itu masih jelas di ingatanku, bahkan ketika semuanya runtuh.

Perubahan itu datang perlahan setelah kami menjalani hubungan jarak jauh. Pesan-pesannya tak lagi cepat dibalas. Suaranya terdengar jauh saat kami berbicara. Aku mencoba menenangkan diri, menyakinkan hatiku bahwa semua hubungan pasti melewati fase lelah.

"Akhir-akhir ini kamu lagi sibuk banget, ya?’’ Tanyaku lewat telepon.

Kael terdiam sejenak "Iya, ada acara penting".

Aku memilih percaya, lagi.

Sampai suatu hari tanpa sengaja aku stalking sosial medianya, dan aku merasa janggal dengan satu akun yang mungkin ada something dengannya, sama seperti kebenaran yang datang tanpa permisi. Namun aku hanya diam menunggu kejanggalan itu terjadi.

Setelah sekian lama ia tidak menghubungiku, tanpa angin dia tiba-tiba menanyakan kabarku. "Bagaimana kabarmu?".

Aku pun menjawab "kabarku baik-baik saja," lantas aku menanyakan balik kabar Kael "lalu bagaimana kabarmu?".

"Aku baik-baik saja... aku sangat merindukanmu, dan selalu sayang padamu".

Di saat bersamaan dengan ucapan itu, tiba-tiba akun yang kucurigai menghubungiku. Lalu akun tersebut bertanya "ada hubungan apa kamu dengan Kael?". Hal itu pun membuatku terkejut.

"Kamu selingkuh?" Tanyaku pada Kael.

Tanpa rasa bersalahnya Kael pun menjawab "maafkan aku, aku tak sengaja. Ada hal yang nggak bisa aku ceritakan ke kamu".

"Sejak kapan?" Tanyaku pelan.

"Aku nggak niat nyakitin kamu, ini penting aku nggak bisa lepasin dia, La" Jawabnya dengan nada frustasi.

Aku tertawa kecil, pahit "Tapi nyatanya kamu nyakitin aku Kael, kamu tetap melakukannya. Apa salahku? Sampai kamu tega khianatin aku?".

Air mataku jatuh tanpa izin. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan? Bukan karena kamu jatuh cinta kepada orang lain, tapi karena kamu berbohong padaku, setiap hari."

Ia tidak menjawab. Diamnya adalah pengakuan.

Aku pun menutup teleponnya. Malam itu aku menatap langit-langit kamar, mengulang semua kenangan, mencari di mana kurangku, di mana salahku. Tapi tak ada jawaban yang menenangkan.

Hari-hari setelahnya terasa hampa. Aku belajar tertawa di depan orang lain, lalu menangis sendirian di malam hari. Ada rindu yang tak tahu harus pulang ke mana.

Suatu hari, Kael menghubungiku.

"Aku kangen," Katanya singkat.

Aku menutup mata. "Aku juga pernah kangen, tapi kamu memilih pergi".

Ia hanya terdiam.

"Kamu pernah bilang, bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan kamu bakal tetap sayang aku. Nyatanya itu semua bohong. Kamu juga bilang, walaupun dipisahkan jarak dan waktu, kita bisa menghabiskan setiap waktu bahagia tanpa takut kehilangan. Nyatanya kamu memilih pergi. Apalagi yang harus dipercaya dari kamu? Bahkan semuanya terlihat bohong." Jawabku dengan mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini aku pendam.

"Maaf".

Aku memutuskan untuk berhenti berharap. Aku mulai menata ulang hidupku lagi, sedikit demi sedikit. Aku belajar bahwa mencintai bukan berarti kehilangan harga diri.

Kini, saat aku mengingat Kael, tak ada lagi air mata, melainkan pelajaran. Bahwa akan ada saatnya tentang dia benar-benar menghilang.

Ia mungkin telah mengkhianatiku, tapi aku memilih untuk tidak membalas semua perlakuan dia kepada diriku. Mencoba ikhlas bukan berarti kalah, namun itu adalah bentuk kedewasaan seseorang.

Dan dari semua janji yang pernah retak, aku membuat satu janji kepada diriku untuk tidak lagi menetap di hati yang tak memilihku.

Biodata Penulis:

Anggun Nirmala (biasa disapa Anggun) lahir pada tanggal 26 Juni 2006. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa di UIN Saizu, Progam Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

© Sepenuhnya. All rights reserved.