Sang Putri di Balik Tirai

Cerpen ini mengisahkan Nala, seorang anak perempuan yang tumbuh dalam aturan ketat, terlihat baik-baik saja di luar, namun menyimpan lelah dan luka.

Oleh Anggun Nirmala

Di sebuah rumah, hiduplah seorang anak bernama Kanala Arabela Ophelia, ia adalah anak yang cantik, lugu, polos, ceria. Sejak ia belajar berjalan, Nala telah diajari satu hal yang sama berulang kali yaitu "jangan salah langkah".

Ayahnya selalu menggenggam tangannya erat, seolah dunia luar rumah adalah jurang yang siap menelan. Ayahnya selalu mengawasi dari kejauhan, memastikan bahwa Nala tidak melanggar aturan yang sudah ditentukan. Nala tumbuh di dalam rumah yang tenang, rapi, dan penuh aturan. Rumah yang menurut orang lain tampak aman, namun baginya terasa seperti istana dengan pintu-pintu terkunci.

Setiap harinya ia selalu mendapatkan ucapan yang mungkin bagi mereka hal yang menyebalkan. "Anak perempuan harus tahu batas, kamu harus jadi yang terbaik seperti kakakmu, anak perempuan tidak boleh lemah, jangan membantah dan jangan mengecewakan ayah dan ibu". Nala pun hanya bisa mengangguk setiap harinya.

Cerpen Sang Putri di Balik Tirai

Ia tumbuh di balik tirai, dengan menuruti semua ucapan orang tuanya, dengan aturan ketat. Ia boleh bermimpi tapi mimpi yang sudah disetujui. Ia boleh bahagia, asal bahagianya terlihat pantas.

Di sekolah, Nala dikenal sebagai anak yang manis dan pendiam. Teman-temannya menganggapnya baik, meski sulit ditebak apa yang ada di dalam kepalanya. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya menyimpan ribuan kata yang tak pernah sampai ke udara.

"Kamu capek nggak sih, La?" Tanya Tari dengan heran.

"Capek, tapi Ayah punya aturan. Bagaimana bisa aku melawan?" Jawab Nala dengan senyum tipis.

"Kalo aku jadi kamu rasanya pengin teriak, selalu diam, selalu nurut, bahkan aku bisa memberontak" Ucap Tari dengan geram.

Nala pun hanya tersenyum kecil, ia juga ingin berkata tapi capek seolah tertahan di dadanya sendiri.

Sore itu, Nala pulang dengan langkah pelan. Rumahnya tetap sama, sunyi, rapi dan terasa dingin. 

"Kamu pulang terlambat?" Suara Ibunya terdengar dari ruang tengah.

"Habis kerja kelompok, Bu" Jawab Nala dengan nada lelah.

"Lain kali izin dulu. Anak perempuan jangan sembarangan keluar, nggak usah bikin Ayah dan Ibu khawatir. Kamu udah besar, udah ngerti" Jawab Ibunya menatap Nala dari ujung kepala sampai kaki.

Nala pun hanya menunduk dan masuk ke kamarnya. Malam harinya saat selesai makan malam, Ayahnya memanggilnya ke ruang tamu.

"Duduk" Perintah Ayah dengan wajah tegas.

"Bagaimana nilai kamu di sekolah? Kamu tidak macam-macam, kan?" Ucap Ayah.

"Baik, Yah. Aku juga tidak melakukan hal yang melanggar aturan sekolah" Jawab Nala.

"Bagus! Ayah tau yang terbaik untukmu, turuti saja ucapan Ayah. Sana masuk kamar, belajar, tidak usah main HP". Jawab Ayahnya dengan nada peringatan. Nala pun bergegas masuk ke kamarnya.

Di kamar, ia langsung membuka buku diary kecil untuk mencurahkan apa yang dia rasakan. Menurutnya buku diary itulah tempat satu-satunya ia bebas berkata jujur tanpa bantahan.

Diary 20.26

"Aku seperti boneka di istana kaca, cantik dilihat tapi tak pernah ditanya apakah aku lelah berdiri. Aku ingin berteriak, tapi suaraku disimpan orang lain. Aku ingin memilih, tapi Ayah selalu punya pilihan. Aku ingin bercerita tapi kepada siapa? Tentang lelahnya menjadi sempurna, tentang sedihnya yang datang tanpa alasan, tentang marah yang harus ditelan bulat-bulat. Namun setiap aku mengeluh Ayahku selalu bilang bahwa anak perempuan tidak boleh lemah. Apa aku boleh sedih? Apa aku boleh marah? Apa aku boleh berkata tidak? Namun pertanyaan itu selalu berakhir di dadanya sendiri. Aku capek, Ayah. Bolehkah aku menangis dan memelukmu?"

Nala pun menutup bukunya dan ia sembunyikan di lemari, seperti rahasia paling berbahaya. Setiap kali Nala mencoba mengutarakan perasaannya, suaranya seakan hilang. Lidahnya kelu, hatinya penuh rasa takut, ia takut mengecewakan Ayah dan Ibunya, takut dicap durhaka, takut kehilangan cinta mereka. Setiap pujian itu terasa seperti tembok tambahan di sekeliling hatinya. Ia tersenyum, menunduk, dan diam karena begitulah peran yang harus ia mainkan.

Hari itu ia menangis bukan karena takut dimarahi, bukan karena dipukul, tapi ia menangis karena terlalu lama tidak pernah diperbolehkan, air matanya jatuh tanpa suara, bahkan isak pun ia tahan. Ia tumbuh menjadi remaja yang ceria, tenang, lugu dan tampak baik-baik saja. Namun di dalam dirinya, ada anak kecil yang masih di balik tirai menunggu seseorang bertanya tanpa menghakimi, "apa yang kamu rasakan?" Ia tidak punya suara, ia hanya tidak pernah diberi ruang untuk menggunakannya dan di balik itu semua, ia berharap suatu hari nanti, ia tidak lagi menjadi Putri dalam sangkar emas, melainkan manusia utuh yang boleh memilih, merasa, dan berbicara, ia juga berharap bertemu dengan seseorang yang bisa membuat dia merasa bersuara.

Biodata Penulis:

Anggun Nirmala (biasa disapa Anggun) lahir pada tanggal 26 Juni 2006. Saat ini ia aktif sebagai mahasiswa di UIN Saizu, Progam Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini.

© Sepenuhnya. All rights reserved.