Saling Menemukan

Cerpen ini bercerita tentang remaja yang jatuh cinta pada gadis misterius yang hanya muncul saat hujan, sampai pertemuan nyata membuka rahasia sejati.

Oleh Arief Munandar

Hujan turun seperti sedang mengulang pelajaran yang sama berkali-kali: setia, jatuh, menghilang. Halaman sekolah itu lengang, hanya ada genangan yang memantulkan langit kelabu dan bangku panjang di bawah pohon flamboyan yang selalu jadi tempat anak-anak kelas sepuluh menunggu bel pulang.

Cerpen Saling Menemukan

Di bangku itu, siang itu, duduk seorang anak laki-laki bernama Raka. Usianya lima belas tahun, tapi wajahnya seperti baru saja melewati ujian hidup yang tidak ada di kurikulum. Seragamnya basah sebagian karena ia terlalu malas berteduh. Tasnya terbuka, buku-buku keluar seperti napas yang terlepas.

Ia sedang menunggu seseorang yang sebenarnya tidak pernah berjanji datang.

“Kalau hujan, dia pasti muncul,” gumamnya pelan.

Tak ada yang tahu dari mana keyakinan itu berasal. Bahkan Raka sendiri tidak yakin. Tapi sejak tiga bulan lalu, setiap hujan deras di sekolah, ia selalu melihat gadis yang sama: rambut hitam panjang, pita biru di pergelangan tangan, sepatu yang tidak pernah kotor meski halaman becek.

Namanya—setidaknya menurutnya—Lia.

Ia tidak pernah benar-benar memperkenalkan diri. Tidak pernah terlihat di kelas mana pun. Tidak pernah ikut apel. Tidak pernah tercatat di daftar siswa. Tapi setiap hujan, ia ada. Duduk di sebelah Raka. Bicara hal-hal yang tidak masuk akal tapi terasa paling masuk akal di dunia.

Seperti siang itu.

“Telat,” kata sebuah suara lembut di sampingnya.

Raka tidak menoleh. Ia tersenyum tipis. “Hujannya kurang niat.”

“Ah, kamu selalu menyalahkan hujan.”

“Karena kamu selalu datang bersamanya.”

Baru ia menoleh. Lia sudah duduk di sana, seperti memang dari tadi ada. Seragamnya sama: putih-biru. Rambutnya sedikit lembap. Pita biru di pergelangan tangan kiri, seperti tanda pengenal yang tidak diketahui fungsinya.

“Aku pikir kamu tidak akan datang hari ini,” kata Raka.

“Aku juga pikir begitu,” jawab Lia ringan. “Tapi kamu memanggil.”

“Aku tidak memanggil.”

“Kamu duduk di bangku ini saat hujan. Itu sama saja.”

Raka tertawa kecil. Lia selalu punya logika yang seperti teka-teki silang: membingungkan tapi bikin nagih.

Mereka duduk berdampingan. Hujan merapat. Suara air di daun flamboyan seperti bisikan yang terlalu banyak untuk dimengerti.

“Kamu pernah merasa,” kata Raka tiba-tiba, “bahwa kamu sedang mencari seseorang… tapi kamu tidak tahu siapa?”

Lia menoleh, mata hitamnya memantulkan langit kelabu. “Setiap hari.”

“Serius?”

“Aku selalu merasa ada yang hilang,” katanya. “Seperti buku yang halamannya sobek. Ceritanya masih jalan, tapi ada bagian yang tidak bisa dibaca.”

Raka mengangguk pelan. “Aku juga begitu.”

“Makanya kita duduk di bangku yang sama,” kata Lia.

“Karena sama-sama rusak?”

“Karena sama-sama hilang.”

Raka tertawa. Hatinya hangat. Aneh, karena ia bahkan tidak tahu apakah Lia benar-benar ada. Ia pernah bertanya ke teman-temannya: tidak ada yang mengenal Lia. Guru BK: tidak ada siswa bernama Lia dengan ciri itu. Satpam: tidak pernah lihat.

Tapi Raka tahu satu hal: Lia terasa nyata.

Lebih nyata dari banyak orang yang benar-benar hadir.

“Raka,” kata Lia pelan.

“Hmm?”

“Kalau suatu hari aku tidak datang… kamu akan tetap duduk di sini?”

Raka berpikir. Hujan semakin deras, seperti dunia sedang dihapus ulang.

“Ya,” katanya akhirnya. “Karena mungkin aku yang telat, bukan kamu.”

Lia tersenyum. Senyum yang membuat Raka merasa ia baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama ia cari tapi lupa bentuknya.

“Aku suka kamu,” kata Lia tiba-tiba.

Raka tersedak udara. “Apa?”

“Aku suka kamu,” ulang Lia santai. “Itu fakta sederhana. Tidak perlu dibahas berlebihan.”

“Kamu… kamu bahkan tidak sekolah di sini.”

“Banyak orang suka tanpa tahu alamat.”

“Itu… agak menyeramkan.”

“Cinta memang sedikit horor,” kata Lia. “Kita jatuh ke sesuatu yang tidak kita lihat dasarnya.”

Raka menatapnya. Jantungnya seperti murid yang disuruh maju ke depan kelas tanpa persiapan.

“Aku juga… mungkin suka kamu,” katanya pelan.

“‘Mungkin’ itu kata paling tidak romantis,” protes Lia.

“Aku tidak yakin kamu nyata.”

Lia mengangguk, seolah itu jawaban wajar. “Aku juga.”

“Kamu juga tidak yakin kamu nyata?”

“Kadang aku merasa aku hanya ingatan seseorang,” katanya. “Atau mimpi yang terlalu lama menetap.”

Raka merinding. Tapi anehnya, bukan takut—lebih seperti menemukan rahasia yang seharusnya tidak diketahui oleh siapapun.

“Kalau kamu mimpi,” kata Raka, “aku tidak mau bangun.”

“Kalau aku ingatan?”

“Aku tidak mau lupa.”

Lia diam. Hujan mereda sedikit, seperti memberi ruang pada kata-kata yang lebih penting.

“Raka,” katanya lagi. “Kamu ingat pertama kali kita ketemu?”

“Di sini. Hujan juga.”

Lia menggeleng pelan. “Bukan itu.”

Raka mengernyit. “Lalu?”

“Lebih lama dari itu,” katanya. “Jauh sebelum kita tahu nama.”

“Di mana?”

Lia menatap genangan air di depan mereka. Pantulan langit, daun, dan dua remaja yang duduk berdampingan.

“Kita pernah berjanji,” katanya pelan. “Kalau terpisah di dunia mana pun… kita akan saling menemukan lagi.”

Raka tertawa canggung. “Itu sangat fantasi.”

“Kamu kan suka fantasi.”

“Aku juga suka bakso, tapi bukan berarti aku bakso.”

Lia tertawa. Suaranya seperti bel sekolah yang tidak pernah mengganggu.

“Dengar,” kata Lia. “Kadang dunia ini seperti perpustakaan besar. Orang-orang adalah buku. Kita berjalan, membaca banyak cerita. Tapi ada satu buku yang terasa seperti rumah. Kita tidak tahu kenapa. Kita hanya tahu: ini.”

“Dan kamu pikir aku bukumu?” tanya Raka.

“Ya.”

“Lalu kamu?”

“Aku… mungkin halaman yang hilang dari bukumu.”

Raka menelan ludah. Ada sesuatu di dada yang mengencang—sedih yang tidak punya sebab yang jelas.

“Kenapa kamu selalu muncul saat hujan?” tanyanya.

Lia mengangkat bahu. “Mungkin karena hujan itu batas.”

“Batas?”

“Antara langit dan bumi. Antara atas dan bawah. Antara yang pergi dan yang tinggal,” katanya. “Di batas, hal-hal yang terpisah bisa bertemu.”

Raka menatapnya lama. Ia ingin menyentuh tangan Lia, memastikan ia hangat, ada, bukan ilusi yang terlalu pandai mengarang.

Perlahan, ia mengulurkan tangan.

Jari mereka hampir bersentuhan.

Hujan tiba-tiba berhenti.

Sunyi jatuh seperti buku ditutup mendadak.

Raka menoleh refleks ke langit. Awan retak, cahaya menembus.

Ia kembali menoleh ke samping.

Bangku itu kosong.

“Lia?” panggilnya.

Tidak ada.

Hanya pita biru kecil tergeletak di kayu bangku, basah hujan.

Jantung Raka jatuh seperti pensil dari meja ujian: kecil, tapi bunyinya menggema.

Ia mengambil pita itu. Dingin. Nyata.

“Lia?” lagi.

Halaman sekolah tetap sepi. Anak-anak sudah pulang. Dunia kembali normal, seolah tiga bulan percakapan mereka hanyalah jeda yang tidak tercatat.

Raka berdiri. Kepalanya ringan, seperti sebagian dirinya baru saja dihapus.

Tapi di tangan kirinya: pita biru.

“Kalau suatu hari aku tidak datang… kamu akan tetap duduk di sini?”

Suara Lia terulang di kepalanya.

Raka duduk kembali di bangku itu.

Langit cerah sekarang. Tidak ada hujan. Tidak ada batas.

Ia menunggu.

Waktu terus begerak. Tidak ada Lia.

Ia mengikat pita biru itu di pergelangan tangannya.

“Kalau kamu halaman yang hilang,” gumamnya, “aku akan tetap baca.”

Angin berembus. Satu lagi daun flamboyan jatuh.

Di genangan yang belum kering, Raka melihat pantulan dirinya… dan sesaat, seperti ada bayangan lain duduk di sampingnya.

Ia menoleh cepat.

Kosong.

Tapi hangat.

Hari-hari berikutnya, Raka selalu kembali ke bangku itu setiap pulang sekolah. Hujan atau tidak. Teman-temannya mulai bercanda: ia seperti satpam bangku.

Ia tidak peduli.

Kadang ia bicara sendiri, seolah Lia ada.

“Matematika hari ini kejam.”

“Aku benci upacara.”

“Aku dapat nilai delapan.”

Aneh, tapi setiap kali ia bicara, angin seperti menjawab. Daun bergerak. Pita di tangannya bergetar.

Seminggu.

Dua minggu.

Sebulan.

Musim hujan hampir pergi.

Suatu siang, langit mendung lagi. Hujan turun pelan, ragu-ragu seperti orang yang tidak yakin disambut.

Raka duduk. Jantungnya cepat. Ia tidak berani berharap—harapan itu licin.

Hujan menguat.

Genangan terbentuk.

Angin dingin lewat.

“Telat,” kata sebuah suara lembut di sampingnya.

Raka menutup mata.

Ia takut membuka dan tidak ada siapa-siapa.

“Kalau kamu tidak buka,” lanjut suara itu, “aku dianggap tidak datang.”

Perlahan, Raka membuka mata.

Di sampingnya, seorang gadis duduk.

Seragam putih-biru.

Rambut hitam panjang.

Pergelangan tangan kirinya kosong—tanpa pita.

Mata mereka bertemu.

Gadis itu tersenyum ragu. “Hai… aku baru pindah ke sekolah ini hari ini.”

Jantung Raka berhenti setengah detik.

“Namaku Alleia,” katanya. “Teman-teman biasa panggil Lia.”

Raka menatapnya. Wajah yang sama. Suara yang sama. Tapi ada sesuatu berbeda: ia terasa… sepenuhnya di sini.

Nyata tanpa retak.

“Maaf,” kata Lia canggung. “Aku lihat kamu sering duduk di sini. Boleh aku…?”

Raka tidak menjawab. Tangannya gemetar pelan.

Ia melepas pita biru di pergelangannya.

Mengulurkannya ke Lia.

Gadis itu mengernyit. “Ini…?”

“Kamu pernah kehilangan ini,” kata Raka pelan.

Lia menatap pita itu lama. Alisnya berkerut, seperti ingatan yang hampir muncul tapi belum selesai.

“Aneh,” katanya. “Aku merasa… kenal.”

Raka tersenyum, tapi matanya basah.

“Tidak apa-apa,” katanya. “Kita punya waktu.”

Lia mengambil pita itu. Jari mereka bersentuhan.

Hangat.

Nyata.

Hujan turun lebih deras, seperti tepuk tangan yang terlalu lama ditahan.

Lia mengikat pita itu di pergelangan tangannya.

Ia menatap Raka lagi, lebih lama.

“Aku merasa,” katanya pelan, “seperti kita pernah berjanji sesuatu.”

Raka menelan emosi yang naik seperti air pasang.

“Mungkin,” katanya, “kita pernah terpisah.”

“Dan sekarang?”

Raka melihat hujan, bangku, genangan—batas antara dunia yang pernah dan yang sekarang.

Ia kembali menatap Lia.

“Sekarang,” katanya, “kita mulai menemukan.”

Lia tersenyum. Tapi sebelum ia bicara lagi, bel sekolah berbunyi keras dari gedung utama—panggilan untuk siswa baru berkumpul di aula.

Lia berdiri cepat. “Aku harus ke sana.”

Raka mengangguk.

Lia berlari beberapa langkah, lalu berhenti. Menoleh.

“Raka?” panggilnya.

Ia kaget. “Kamu tahu namaku?”

Lia terlihat sama bingungnya. “Aku… tidak tahu. Tiba-tiba saja keluar.”

Hujan menari di antara mereka.

Dua remaja. Dua kemungkinan masa lalu.

Satu janji yang mungkin pernah dibuat.

“Aku balik lagi nanti,” kata Lia.

Raka tersenyum. “Aku di sini.”

Lia berlari pergi, menghilang di koridor sekolah yang basah.

Raka duduk kembali.

Hujan turun.

Bangku hangat.

Pergelangan tangannya kosong sekarang—tapi tidak lagi terasa hilang.

Di genangan, ia melihat pantulan dirinya… dan untuk pertama kalinya, bayangan di sampingnya tidak kabur.

Ia menunggu.

Dan di aula sekolah, Lia berhenti mendadak di tengah kerumunan siswa baru.

Ia melihat pergelangan tangannya.

Pita biru.

Jantungnya berdebar aneh.

Di kepalanya, sebuah kalimat muncul tanpa asal:

Kalau terpisah di dunia mana pun… kita akan saling menemukan lagi.

Lia menoleh ke arah halaman, ke bangku di bawah flamboyan yang entah kenapa terasa seperti rumah.

Ia tidak tahu kenapa matanya basah.

Ia tidak tahu kenapa nama “Raka” terasa seperti kata yang sudah lama ia simpan di ingatan.

Ia hanya tahu satu hal yang pasti dan menegangkan:

Ia belum ingat segalanya.

Dan mungkin—

Ia tidak datang sendirian ke sekolah itu.

© Sepenuhnya. All rights reserved.