Oleh Anggun Nirmala
Masa lalu yang belum dilepaskan akan selalu menjadi bayangan dalam hubungan yang baru. Ia tidak terlihat, tapi terasa. Ia tidak bicara tapi selalu hadir di sela-sela kehidupan. Aku baru menyadari bahwa perasaanku ada di saat hubungan kita sudah usai. Saat pesannya tidak lagi datang, saat aku kehilangan perhatian darinya ketika aku terlalu fokus pada bayangan masa laluku.
Ia adalah sosok lelaki yang datang menawarkan cinta di saat aku sedang terjerat oleh perasaan kepada sosok di masa laluku. Langit adalah tipe lelaki yang mencintai tanpa banyak suara. Ia tidak pandai merangkai kata manis, tapi selalu tahu caranya bertahan. Sosok lelaki dengan zodiak pisces itu membuatku tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa paksaan. Ia tidak pernah menuntut untuk dipilih, hanya hadir dan menetap. Saat aku tenggelam dalam kenangan masa laluku, ia hanya berdiri di sampingku, menunggu tanpa banyak tanya.
Sejak ia mengenalku, ia tahu bahwa aku tidak sepenuhnya utuh. Ada bagian yang tertinggal di masa lalu.
Namun langit tetap memilih tinggal.
Aku sering bercerita, tentang hariku yang dulu bersamanya, namun Langit hanya mendengarkan dengan sabar, meski cerita itu mungkin menyakiti hatinya.
"Kamu nggak capek dengerin ceritaku yang itu-itu aja?" Tanyaku.
Langit menggeleng "Kalau itu bikin kamu lega, aku nggak masalah".
Padahal sebenarnya, ia ingin sekali Layla bercerita tentang dirinya. Tentang masa depan, tentang mimpi baru. Tapi Langit tahu, memaksa perasaan hanya akan membuat Layla menjauh darinya.
Hari-hari mereka berjalan sederhana. Berkomunikasi selayaknya orang yang saling jatuh cinta. Namun saat hari itu, Layla tiba-tiba mengatakan hal yang membuatnya merasa ingin marah tapi tak punya hak untuk marah.
"Kamu lagi sibuk banget ya?" Tanya Langit dengan penasaran.
"Aku habis ketemu dia, Langit... dan kamu tahu? Dia bilang masih sayang aku, dia butuh aku... aku nggak tahu harus bersikap gimana" Jawab Layla dengan nada frustasi.
Langit hanya tersenyum tipis, namun dalam hatinya ia sangat kecewa.
Masa lalu Layla bukan kenangan biasa. Itu adalah luka yang belum sembuh. Ia tidak bisa memaksa untuk mencintai dirinya, ia hanya bisa menunggu sampai rasa itu ada dan berpihak padanya.
Hari ini Layla ulang tahun dan Langit pun tak lupa memberi ucapan kepadanya.
"Selamat ulang tahun Layla, semoga semua harapan kamu terkabul, dan jangan lupa untuk bahagia, aku sayang kamu dan selalu ada untukmu."
"Thanks Langit, aku beruntung punya kamu."
Layla tersenyum saat membaca pesan dari Langit, namun di balik senyumnya itu ada rasa yang tak mampu ia jelaskan. Ia merasa hangat, tapi juga bersalah. Karena di saat Langit tulus berdiri di sisinya, hatinya masih sering goyah oleh masa lalu yang belum benar-benar ia lepaskan.
Malam itu Layla duduk di tepi jendela, menatap langit yang gelap, dan dia membuka buku diary kesayangannya untuk ia curahkan yang menjadi beban di pikirannya.
Diary 9.26
"Hey picses boy, aku harap kamu tidak kecewa padaku nanti saat kamu tahu bahwa aku tidak pernah mencintaimu, aku hanya mencari orang yang mungkin mirip dengan dia. Aku tahu perasaan kamu tulus, tapi aku tetap bertahan di perasaanku sendiri. Kamu adalah orang sempurna yang pernah aku temui. Andaikan aku bertemu denganmu dulu sebelum aku bertemu dengannya, sebelum aku mencintainya, mungkin aku bakal sejatuh cinta itu ke kamu. Dan menjadi perempuan yang beruntung karena dicintai setulus itu olehmu, namun perasaan kecewaku pada dia membuatku terjebak dalam perasaan mati rasa.
Love you, Langit.
Ia menutup diary itu, lalu meraih ponselnya. Nama Langit terpampang jelas di layar. Ia ingin mengetik sesuatu, tapi jarinya tak pernah benar-benar bergerak.
Tak lama kemudian, notifikasi darinya masuk.
"Kamu belum tidur?" Tanya langit.
"Belum".
"Kenapa? Ada yang ingin diceritakan?".
"Nggak, aku mau tidur udah malam".
"Oke, aku di sini kapan pun kamu mau cerita aku bakal dengerin kok".
Kalimat itu membuat dada Layla sesak. Tidak ada paksaan, tidak ada keluhan, hanya kesediaan untuk selalu ada. Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Hari-hari berlalu, senyumnya masih sama, tenang, hangat dan tidak ada yang berubah dari Langit. Tapi itu membuatnya semakin bersalah, dan ia sudah memikirkan keputusaan untuk mengakhiri hubungannya dengan Langit sebab ia tidak mau terus-terusan dengan rasa bersalah di hatinya.
Aku tahu risiko yang bakal aku terima setelah ini, aku rela jika Langit akan membenciku setelah ini, dan mungkin perasaanku yang akan muncul setelah aku putus dengan Langit, aku terima semua itu.
Lantas ia menghubungi Langit untuk mengatakan hal tersebut. Namun saat ia akan menghubunginya tiba-tiba pesan dari langit masuk.
"Pagi Layla, semoga harimu selalu cerah, hari ini aku ke Lawu untuk melihat keindahannya, ada salam dari Gunung Lawu katanya kapan ke sini.... dan jangan lupa selalu bahagia."
Pesan itu membuat jariku gemetar. Aku menatap layar ponsel terlalu lama, seolah berharap kata-kata itu berubah. Aku tersenyum getir saat melihatnya.
"Langit, aku mau kita putus..." Jawab Layla sebelum berubah pikiran.
Kalimat itu menggantung di udara. Terlalu singkat, terlalu tiba-tiba.
"Kamu kenapa? Aku ada salah? Aku bakal hubungi kamu lagi saat aku sudah turun dari puncak nanti, sekarang aku mau ke atas dulu ya..." Ucapnya terlalu hangat, untuk seseorang yang sebentar lagi akan aku sakiti.
"Nggak perlu, aku cuman mau jawaban setuju dari kamu, aku nggak bisa mencintai kamu sepenuhnya, dan kamu pantas dapat yang lebih dari setengah hatiku." Jawab Layla.
Hal itu membuat Langit terbawa emosi, dan ia juga lelah menghadapi sikap Layla. Ia sadar bahwa seberapa keras usahanya untuk membuat Layla mencintainya tidak akan berhasil karena ia tahu sedalam apa perasaannya kepada masa lalunya.
"Kalau itu yang bikin kamu tenang, aku terima... kita putus".
Kata itu menusuk lebih dalam daripada penolakan apa pun.
Setelah kata itu terucap, tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain diam. Ponselku masih menyala, menampilkan namanya, tapi rasanya jarak kami sudah sejauh langit dan bumi.
Aku merenung saat itu. Bukan karena aku kehilangan Langit, melainkan karena benci dengan perasaanku mengapa aku tak bisa mencintai Langit seperti aku mencintai dia. Aku melepaskan seseorang yang mencintaiku dengan cara yang tidak pernah diminta oleh masa laluku.
Hari-hari berlalu, tanpa pesan darinya. Tidak ada 'selamat pagi', tidak ada pengingat untuk makan, tidak ada doa-doa kecil yang biasanya ia titipkan diam-diam. Dunia terasa biasa saja, tapi aku tidak.
Ia meninggalkanku dengan pelajaran paling pahit, bahwa seseorang bisa sangat mencintai kita, tapi tetap memilih pergi demi menjaga harga dirinya, ia lebih bahagia tanpa aku.
Biodata Penulis:
Anggun Nirmala (biasa disapa Anggun) lahir pada tanggal 26 Juni 2006.