Oleh Arief Munandar
Di antara riuh kendaraan dan suara klakson kota yang tak sabaran, hiduplah seorang remaja perempuan berusia enam belas tahun bernama Aluna. Ia dikenal sebagai siswi pintar di sekolahnya. Nilainya hampir selalu sempurna, aktif di organisasi, dan sering mewakili sekolah dalam lomba pidato. Namun, tak banyak yang tahu bahwa setiap kali bel pulang berbunyi dan teman-temannya dijemput orang tua, Aluna berjalan sendirian menuju halte, membawa beban yang lebih berat dari sekadar tas sekolah.
Ia adalah anak broken home.
Orang tuanya berpisah dua tahun lalu. Ayahnya pindah ke kota lain dan jarang memberi kabar. Ibunya bekerja hingga larut malam sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan. Rumah mereka terasa seperti bangunan kosong yang hanya berisi perabotan.
Meski begitu, Aluna tidak pernah mengeluh. Ia percaya pada satu hal: hidup tidak selalu adil, tetapi selalu memberi kesempatan.
Di sekolah, Aluna memiliki dua sahabat dekat: Dira dan Rangga. Dira ceria dan blak-blakan, sedangkan Rangga pendiam tapi perhatian. Mereka sering menghabiskan waktu di perpustakaan, mengerjakan tugas atau sekadar berbagi cerita.
Suatu hari, saat Aluna hendak mengembalikan buku, ia menemukan sebuah amplop cokelat terselip di antara halaman novel yang dipinjamnya. Tidak ada nama pengirim, hanya tulisan tangan yang rapi:
“Kebenaran tentang keluargamu tidak seperti yang kamu kira.”
Jantung Aluna berdegup kencang.
Ia menoleh ke sekeliling. Perpustakaan sore itu sepi. Hanya terdengar bunyi kipas angin berputar lambat.
Sepanjang perjalanan pulang, kalimat itu terus menghantuinya. Apa maksudnya? Bukankah perpisahan orang tuanya sudah jelas? Mereka bertengkar, lelah, lalu berpisah. Apa lagi yang belum ia ketahui?
Malam itu, ketika ibunya pulang dengan wajah lelah, Aluna ingin bertanya. Namun ia urung. Ia melihat mata ibunya sembab, mungkin karena terlalu banyak lembur. Ada rasa takut untuk membuka luka lama.
Hari-hari berikutnya terasa lebih tegang. Aluna mulai memperhatikan hal-hal kecil: percakapan ibunya yang terhenti saat ia masuk ruangan, panggilan telepon yang dijawab dengan suara berbisik, dan foto keluarga yang tiba-tiba hilang dari ruang tamu.
Dira menyadari perubahan itu.
“Kamu kenapa, Lun? Kok akhir-akhir ini murung?” tanya Dira saat mereka duduk di kantin.
Aluna ragu. Ia tidak terbiasa membagi masalah keluarga. Namun, persahabatan sering kali menjadi tempat pulang kedua.
“Aku nemu surat aneh,” katanya pelan.
Rangga yang biasanya diam ikut menoleh. “Surat apa?”
Aluna menceritakan semuanya.
Rangga mengernyit. “Bisa jadi cuma iseng.”
“Tapi kalau bukan?” Aluna menggigit bibirnya. “Kalau ada sesuatu yang disembunyikan?”
Dira menggenggam tangan Aluna. “Apa pun itu, kamu nggak sendirian.”
Kehangatan sederhana itu membuat mata Aluna berkaca-kaca. Di tengah keluarganya yang retak, ia menemukan keluarga lain dalam wujud sahabat.
Seminggu kemudian, amplop kedua muncul. Kali ini terselip di loker sekolahnya.
“Carilah di ruang arsip sekolah, tanggal 12 Juni, tiga tahun lalu.”
Tangan Aluna gemetar. Tiga tahun lalu adalah tahun sebelum orang tuanya berpisah.
Dengan bantuan Dira dan Rangga, ia menyelinap ke ruang arsip setelah jam pelajaran usai. Mereka mencari dokumen lama, laporan kegiatan, dan berita sekolah.
Di antara tumpukan kertas, Aluna menemukan satu artikel majalah dinding sekolah yang telah menguning. Tanggalnya tepat 12 Juni.
Judulnya: “Siswi Berprestasi Gagalkan Kasus Korupsi Dana Pendidikan.”
Foto yang terpasang membuat napasnya tercekat. Itu foto ibunya.
Dalam artikel itu tertulis bahwa seorang staf administrasi melaporkan penyalahgunaan dana pendidikan yang melibatkan pejabat penting di kota tersebut. Kasus itu sempat menghebohkan, namun kemudian menghilang dari pemberitaan.
Aluna menelan ludah. Ia tak pernah tahu ibunya pernah melakukan hal sebesar itu.
“Berarti… ini ada hubungannya?” bisik Dira.
Rangga terlihat berpikir keras. “Mungkin karena itu orang tuamu sering bertengkar. Tekanan, ancaman, atau apa pun.”
Tiba-tiba terdengar suara langkah mendekat. Mereka buru-buru menyembunyikan dokumen dan keluar dari ruangan.
Misteri itu belum terpecahkan, tapi satu hal yang jelas: perceraian orang tuanya mungkin bukan sekadar pertengkaran biasa.
Malam itu, Aluna akhirnya memberanikan diri.
“Bu, dulu Ibu pernah melaporkan korupsi, ya?” tanyanya langsung.
Ibunya terdiam lama. Wajahnya pucat.
“Dari mana kamu tahu?”
Aluna menyerahkan artikel yang ia fotokopi.
Perlahan, ibunya duduk. Air mata mengalir tanpa suara.
“Iya, Ibu melakukannya. Tapi setelah itu, hidup kita berubah. Ayahmu diancam di tempat kerjanya. Kita diteror. Kami sering bertengkar karena takut. Kami pikir… berpisah adalah cara melindungimu.”
Dunia Aluna seperti runtuh sekaligus utuh kembali.
Jadi, perceraian itu bukan karena mereka tak saling mencintai, melainkan karena ingin melindunginya?
“Kenapa nggak pernah bilang?” suara Aluna bergetar.
“Ibu takut kamu terbebani.”
Air mata mereka bertemu dalam pelukan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu terasa hangat.
Sejak malam itu, Aluna memandang hidupnya dengan cara berbeda. Ia bukan korban dari keluarga yang hancur. Ia adalah anak dari seorang perempuan berani yang memilih kejujuran meski harus kehilangan banyak hal.
Di sekolah, ia semakin giat belajar. Ia ingin menjadi pengacara, membela orang-orang yang berani mengatakan kebenaran.
Prestasinya semakin menonjol. Ia memenangkan lomba debat tingkat kota dengan tema integritas dan kejujuran. Dalam pidatonya, ia berkata, “Keluarga bukan hanya tentang tinggal bersama, tapi tentang keberanian untuk saling melindungi.”
Dira dan Rangga bertepuk tangan paling keras.
Namun, misteri belum sepenuhnya selesai.
Beberapa hari setelah kemenangan itu, Aluna menerima pesan anonim di ponselnya.
“Kamu terlalu banyak tahu. Hati-hati.”
Wajahnya menegang.
Ia menatap layar ponsel lama sekali. Bayangan ancaman masa lalu ibunya kembali terlintas.
Apakah kasus lama itu belum benar-benar selesai?
Apakah keberhasilannya kini menarik perhatian orang-orang yang dulu merasa terusik?
Di luar jendela kelas, kota besar itu tetap bising dan gemerlap, seolah tak peduli pada rahasia yang bersembunyi di baliknya.
Aluna menarik napas dalam.
Ia bukan lagi gadis yang merasa sendirian. Ia punya ibu yang berani. Ia punya sahabat yang setia. Dan ia punya mimpi yang lebih besar dari rasa takutnya.
Namun ketika bel pulang berbunyi dan ia melangkah keluar gerbang sekolah, sebuah mobil hitam berhenti tak jauh darinya. Kacanya gelap, mesinnya menyala pelan.
Pintu mobil itu perlahan terbuka.
Aluna menelan ludah.
Siapa yang keluar dari sana—ancaman dari masa lalu, atau jawaban baru yang lebih mengejutkan?
Langkahnya terhenti di trotoar, di antara bayang langkah yang memanjang.
Dan untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kesuksesan bukanlah akhir dari perjuangan—melainkan awal dari bab yang lebih besar, lebih berani, dan mungkin… lebih berbahaya.