Sampai Gelap Menutup Mata

Cerpen ini menghadirkan kisah haru seorang lulusan SMA yang terpaksa bekerja sebagai ojek online sambil menabung demi mewujudkan cita-cita.

Oleh Sari Dewi Widiastuti

Aku gemetar, besok pengumuman kelulusan dan aku tahu apa yang akan terjadi. Sebuah ironi yang tidak mungkin dihindari, menelan pil pahit, lahir dari keluarga miskin.

Sampai Gelap Menutup Mata

“Bapak, minta maaf, karena Bapak tidak mampu,” lirih suara Bapak memanggilku tadi malam. “Adik-adikmu juga butuh biaya, maafkan kami yang tidak bisa mengabulkan permintaanmu,” sambung Ibu yang semakin meluluh-lantakkan semangatku.

Ya, aku tidak bisa melanjutkan pendidikan, ke tingkat yang lebih tinggi. Aku harus merelakan semuanya, dan beralih menjadi penopang hidup keluarga, sama seperti Derry, Ucup dan Sanusi teman sekelasku, yang nasibnya sama sepertiku.

***

“Udah lihat info pengumuman belum Fan?” Teddy memecahkan konsentrasiku yang sedang bermain gim.

“Males,” ucapku sekenanya, tapi dengan suara tercekat.

“Kayak yakin lulus aja lu Fan,” seloroh Teddy, yang membuatku semakin geram. Aku serta merta menghentikan permainan.

Teddy anak pedagang ayam yang terkenal asbun, membuatku kesal. “Sory, banget Ted, gua nih biar miskin juga belajar, gua yakin sama nilai gua, berisik banget lu ya” teriakku sengit dan langsung beranjak dari kursi.

Hatiku terluka entah karena apa, kata-kata Bapak dan Ibu semalamkah? atau kata-katanya tadi. Kulirik Teddy sekilas, wajahnya bengong, mirip sapi ompong. Aku melangkah keluar kelas. Beberapa siswa anak kelas 12, nampak bergerombol di depan papan informasi. Seorang guru menghalau kericuhan.

“Kalian tenanglah, ini baru mau ditempel, tolong beri Bapak ruang,” teriak guru paruh baya sambil membawa 4 lembar kertas ukuran Folio. Beberapa siswa menepi, ada beberapa yang tidak sabaran.

“Cepatlah Pak, saya deg-degan nih,” ujar salah satu siswi berkerudung.

“Ya Pak, kata Bapak saya, saya mau dibeliin HP baru, kalau saya lulus,” kata siswa berkacamata yang disambut riuh siswa-siwa lain.

Aku mengamati dari kejauhan, aku tidak tertarik, walau sedikit penasaran.

“Hey, Fan, ayo lihat pengumuman,” Ucup sobat kentalku menepuk bahuku. Hampir saja aku terjatuh. Ucup bertubuh tambun, kondisinya sering membuatnya jadi sasaran bully, tapi selama ada aku, tidak akan pernah ada yang akan mengganggunya.

“Nggak tertarik, tahu sendiri kan endingnya akan seperti apa” Suaraku lemah nyaris seperti tak bertenaga.

“Kawan-kawan seperjuanganku, janganlah kalian macam orang tak punya Tuhan, tetaplah bersemangat, kita ngga tahu seperti apa takdir kita, nikmatin sajalah.”

Ah, logatnya aku kenal, ya itulah Sanusi yang tiba-tiba saja sudah bersama kami. Anak Padang ini, memang ajaib, ia bisa muncul secepat kilat, dan bisa menghilang seperti asap, apalagi ketika ditagih uang kas, oleh bendahara kelas, tapak kakinya bahkan tak berjejak.

Aku lulus, nilaiku lebih bagus dibandingkan nilai kedua sahabatku, bahkan untuk seorang Teddy yang ikut bimbel jutaan rupiah. Sebenarnya aku cukup percaya diri dengan otakku yang aku yakini lumayan encer ini. Aku yakin sekali semua yang aku impikan akan bisa terlaksana, kalau aku melanjutkan pendidikan. Tetapi, kini hanya bayang-bayang kosong belaka.

***

“Kak, ada lowongan jadi ojek online nih,” seru Haiba, adikku yang masih SMP, dibawanya sebuah selebaran berwarna hijau. Aku yang sedang sibuk menyiapkan berkas surat untuk melamar kerja, seketika terdiam. Jadi tukang ojek, tidak pernah masuk dalam daftar pekerjaan yang aku inginkan. Aku mengangguk lemah.

Esoknya, aku bersiap, sebenarnya aku cukup yakin, karena sudah mendapatkan SIM di umurku yang masih 18 tahun, cukup lihai dalam berkendara dan hafal rambu-rambu lalu lintas.

“Dek…, mau melamar jadi ojol, ya?” seorang laki-laki seusia Bapak menyapaku ramah, ketika aku baru saja duduk di kursi. 

Kuanggukkan kepala sambil tersenyum, “Iya Pak, semoga saya lulus,” sahutku. 

“Tapi kamu masih terlalu muda, kamu seharusnya kuliah.”

Aku tersenyum getir menanggapi kata-kata yang membuat hatiku teriris. Kuedarkan pandangan, sepertinya hanya diriku yang paling muda. Beberapa laki-laki paruh baya dan bahkan usia pensiun.

“Irfan Irawan” sebuah suara tegas memanggilku. Aku buru-buru menghampiri seorang perempuan setengah baya.

“Dari tadi dipanggil, ngga nyaut-nyaut,” tukasnya kesal dengan wajah ditekuk sambil menyerahkan berkas formulir. Perempuan berhijab warna merah yang aku taksir umurnya sekitar 50-an tahun, memakai lipstik merah menyala, dengan polesan bedak berkerak untuk membuatnya lebih cantik, walau bagiku malah seperti badut. Aku tersenyum dingin mengambil kertas, dan kembali ke tempat duduk.

Aku menghela nafas berat, mimpi-mimpiku musnah dan aku akan berakhir di sini, mungkin aku akan selamanya jadi tukang ojek, beranak dan bercucu. Tanganku lemah tanpa nyawa, menggoreskan satu persatu huruf yang harus diisi dalam biodata. Kuedarkan pandangan menatap sekitar, ada orang yang begitu bersemangat, menatap dengan berbinar-binar seperti melihat sebuah harta yang akan melenyapkan semua kesulitan kehidupan. Selamat datang di masyarakat kelas bawah, bisikku lirih.

***

“Alhamdulillah, kamu lolos nak, jadi ojek online,” sambut Ibu dengan wajah berbinar-binar menatap layar ponsel pengumuman.

“Apa yang harus dibanggakan dari profesi ini Ibu,” semburku dengan suara rendah.

“Loh nak, ini adalah keberhasilan, kamu bisa punya uang sendiri, punya penghasilan”

“Maksud Ibu, aku selama ini cuma jadi beban, jadi karena itu, Ibu tidak mau aku melanjutkan kuliah?” hatiku seperti ingin meledak, dan menumpahkan semua yang kupendam.

“Kamu beban?” tiba-tiba Bapak muncul dari kamar. “Ngga pernah, Bapak dan ibu menganggap kamu beban, kamu anak yang baik, janganlah karena hal ini, kamu menjadi benci sama kami,” Bapak mengusap lembut bahuku. “Bapak dan Ibu mengijinkan kamu melanjutkan kuliah, pakailah uang yang kamu peroleh dari ojek online untuk daftar kamu kuliah,” ungkapnya tenang.

Ibu mengangguk menghampiri dan memelukku erat, “Berjanjilah, bahwa kamu akan melakukan tugasmu dengan bertanggung jawab, tidak usah ragu dengan Bapak dan Ibu, kami akan berusaha sekuat tenaga, agar kamu bisa kuliah, kami selalu menyayangi kamu, Fan,” kata-kata Ibu menyentuh hatiku, membuatku menjadi serba salah.

Bapak dan Ibu memelukku haru, kami bertangisan, dadaku yang awalnya sesak menjadi lebih lapang. Aku akan kuliah suatu saat nanti.

***

Menjadi ojek online bukanlah hari yang ringan, aku belajar banyak hal, sistem yang terkadang eror, bahkan kerap kali aku dimarahi pelanggan jika aku teledor saat mengirimkan barang ke tempatnya.

Peristiwa mistis bahkan kerap terjadi, ketika aku mendapat orderan malam hari. Aku pernah mendapatkan pelanggan yang awalnya aku kira manusia tetapi ternyata bukan manusia. Aku mengantarnya ke sebuah pemakaman, yang awalnya aku melihatnya sebuah rumah yang megah dan indah. Perempuan itu mengucapkan terima kasih, tetapi diucapkannya sambil tertawa yang membuat bulu kudukku meremang. Selain makhluk yang meminta diantar ada lagi yang meminta pesanan makanan yang awalnya aku kira di sebuah rumah yang ternyata rumah kosong.

Setiap kesulitan aku jalani dengan penuh ketabahan. Hingga bertahun-tahun. Setiap rupiah yang aku hasilkan, sebagian aku tabung untuk persiapan kuliah, tak lupa aku juga menyisihkannya untuk biaya adik-adikku sekolah dan membantu uang belanja di rumah, walau Ibu berulang kali menolak tetapi aku tetap memaksanya.

Namun, ada hal yang membuatku sedih yaitu ketika mendapatkan penumpang yang mereka adalah teman-temanku yang kuliah. Beberapa kali mereka bertanya mengapa aku tidak kuliah dan aku hanya bisa tersenyum getir. Sebuah pertanyaan menusuk yang memang tidak membutuhkan jawaban. Ada beberapa teman yang memberiku tips lebih, aku menerimanya dengan senang hati. Terkadang aku memberikan tumpangan gratis. Tidak ada salahnya berbuat baik, aku yakin Tuhan pasti akan membalasnya dengan berlipat ganda. Tidak terasa uang hasil ojek online yang aku sisihkan semakin banyak. Aku yakin mimpiku akan terwujud segera. Sebentar lagi aku akan menginjak usia 21 tahun, belum terlalu tua untuk kuliah.

Sebuah telpon menyadarkan lamunanku, Aisyah menelponku sambil menangis, Bapak harus segera dibawa ke UGD. Bapak tiba-tiba kejang. Hatiku bergetar hebat, bayanganku tentang Ayah muncul tiba-tiba, aku segera menepisnya. Motor kupacu cepat membelah kota. Sesampai di rumah, aku melihat Ibu menangis, Bapak terbaring lemah. Beberapa tetangga menyarankan untuk membawa Bapak dengan mobil. Aku sadar, di sekelilingku tidak ada yang memiliki mobil. Aku langsung menelpon Teddy, meminjam mobil dan segera membawa Bapak ke rumah sakit. Bapak sakit demam berdarah dan kondisinya kritis. Aku terduduk lemas. Ibu berulangkali pingsan. Bapak membutuhkan banyak darah. Aku menelpon teman-teman ojol, aku bersyukur mereka membantu.

Setelah beberapa jam menunggu, kondisi Ayah berlangsung stabil “Untung saja, kamu langsung membawanya ke rumah sakit, kalau terlambat satu jam saja, mungkin nyawa Bapakmu tidak tertolong,” ucap seorang dokter yang aku baca berinisial dr. Hendra.

Setelah beberapa hari dirawat, Ayah memintaku untuk dirawat di rumah. “Ayah ingin kembali bekerja, sepertinya tidak enak membuat kamu harus menjadi tulang punggung keluarga,” ucapnya lirih.

“Bapak jangan pernah berkata seperti itu, asalkan Bapak sehat, Irfan sudah senang.”

Biaya rumah sakit cukup besar, dan keluargaku tidak memiliki BPJS, sehingga biaya harus kami tanggung sendiri. Aku bersyukur ada bantuan dari teman-teman ojolku walau tidak besar, tetapi cukup meringankan. Aku harus merelakan sebagian besar tabunganku untuk membiayai perawatan Bapak di rumah sakit. Uang gampang dicari, aku akan menabung lagi, bisik batinku.

Kondisi Bapak berangsur-angsur pulih dan mulai beraktivitas seperti biasa. Ibu membantu Bapak berjualan bubur. Aku meminta Bapak untuk berjualan di rumah saja, dan tidak berkeliling. Bapak menyanggupinya, wajahnya sudah kembali ceria. Aku gembira melihatnya.

Setelah berjibaku dengan waktu melayani penumpang, mengirim orderan, aku kembali ke pangkalan dan menemui teman-temanku satu profesi. Aku terkejut ketika sebuah kue bolu berlapis coklat diberikan kepadaku, hidangan mewah yang disambut dengan teriakan selamat ulang tahun. Aku baru ingat, hari ini ulang tahunku.

“Selamat ulang tahun Fan, anak baek semoga panjang umur” ucap pak Mul, ojol paling senior.

Aku tersenyum senang, mereka bersalaman dan merangkul, hatiku bahagia. Ulang tahunku belum pernah dirayakan sehangat ini. Aku bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan membantuku.

“Jangan patah semangat ya Fan, walau uang buat kuliah lu kepake, Insya Allah nanti dapat gantinya, gua yakin itu dah, dan jangan pernah ninggalin sholat, apapun kondisinya,” Bang Iwan yang sudah kuanggap abang sendiri menyemangatiku.

“Iya Bang, makasih banyak sudah membantu saya” ucapku tulus.

Lecutan dari mereka, membuat semangatku semakin membara, setiap hari aku berjuang mendapatkan rupiah, bahkan sampai malam hari. Hingga suatu pagi aku mendapat pelanggan yang ternyata ia adalah mahasiswa.

“Bang lo tahu ngga, video yang lagi viral?”

“Ya, saya tahu Bang”, jawabku.

Aku ingat beberapa hari ini di pangkalan sibuk membahas beberapa anggota DPR yang berjoget saat rapat. Suatu pandangan yang memilukan, apalagi mereka mendapat tunjangan yang sangat tinggi, 50 juta per bulan.

“Hari ini bakalan rame Bang, kita mahasiswa mau demo turun ke jalan,” ucapnya sungguh-sungguh.

“Beneran, Bang?” tanyaku serius.

Demonstrasi, aku pernah melihatnya di TV, aku belum pernah melakukannya.

“Iyalah Bang, kita harus membela rakyat, bisa-bisanya mereka joget-joget sementara kita rakyat kecil cari kerja susah, kelaparan, bahkan disuruh biayain hidup mereka dengan pajak” ucapnya berapi-api.

Aku mengangguk setuju, “Bener Bang, mereka harus dikasih tahu.”

Hari menjelang malam, percakapan dengan mahasiswa tersebut aku ceritakan kembali dengan teman-temanku yang lain di pangkalan. Ternyata mereka pun akan ikut dalam kegiatan demonstrasi tersebut.

“Lo, ikut juga Fan, siapa lagi yang memperjuangkan hak kita, selain kita sendiri, jangan mau dibodohi orang-orang DPR itu,” teriak Bang Iwan dengan nada kebencian.

“Iya Bang, bagaimana nanti aja, ini malahan saya dapat orderan makan, kayaknya lokasinya ngga jauh dari tempat demo.”

“Ya udah kita berangkat duluan, nanti lo nyusul ya” ajaknya.

Mereka berlima pun pergi meninggalkan pangkalan. Aku menghela nafas. Ikut berdemo, pasti banyak konsekuensinya, aku melihat beberapa kali terjadi kerusuhan saat terjadi demo, dan ada korbannya. Aku tidak takut mati, tetapi aku juga tidak mau kedua orang tuaku khawatir.

Motor kunyalakan, malam semakin pekat. Aku berdoa dalam hati dan meneruskan perjalanan menjemput rezeki.

Situasi demo sangat ramai, beberapa massa mulai merangsek para polisi yang berjaga. Di aplikasi titik pengantaran tak jauh dari lokasi demo. Bisa-bisanya aku mendapat orderan di tempat segenting ini, aku menggerutu dalam hati.

Demi rupiah, untuk kuliah, ucapku menyemangati. Aku menaruh motor di pinggir jalan, aku melihat beberapa motor juga terparkir di sana.

“Tenang Bang motor lu, gua jagain, tapi jangan lupa uang parkirnya,” kata seorang laki-laki bertopi hitam yang ternyata tukang parkir.

“Siap Bang, jagain motor gua ya Bang, ini sumber mata pencaharian,” kataku.

“Aman Bang, gua warga sini.”

Aku berjalan cepat-cepat aku melihat Bang Iwan melambaikan tangan dari kejauhan.

“Eh lu udah nyampe. Gila nih, massa udah rusuh lu cepetan kasih orderan, dan cepet pergi dari sini” teriaknya saat menghampiri.

Suara riuh rendah para demonstran, meneriakkan kata revolusi. Aku melihat massa yang semakin beringas, melempari polisi dengan batu, membakar ban, dan menyalakan kembang api. Beberapa ada yang melemparkan bom molotov.

Aku bergidik. Sambil menjinjing makanan, aku berlari cepat menghindari gas air mata yang dilempar polisi. Sial, mataku kena, perih terasa. Aku menguceknya berulang kali. Pandanganku mulai berkabut dan nanar.

Kugenggam erat orderanku, sedikit lagi aku sampai, setelah itu pulang. Aku terus berlari, tiba-tiba badanku oleng dan terjatuh. Aku melihat Bang Iwan mengejarku. Sebuah hantaman mengenai kepalaku, deru mobil, suara teriakan, mataku menggelap, aspal ini terasa dingin menusuk. Ibu, Bapak maafkan aku.

Biodata Penulis:

Sari Dewi Widiastuti adalah seorang guru dan pegiat literasi yang aktif dalam kegiatan membaca nyaring (read aloud), pelatihan menulis, serta pengembangan literasi anak. Ia tergabung dalam Read Aloud Jakarta Timur dan telah menjadi narasumber berbagai workshop literasi, pelatihan menulis cerpen maupun novel, serta program peningkatan literasi anak di berbagai komunitas dan sekolah. Selain aktif sebagai narasumber, Sari Dewi juga merupakan penulis sejumlah buku anak dan remaja, serta terpilih sebagai penulis dalam Sayembara Penulis Bacaan Literasi Gerakan Literasi Nasional Kemendikbud tahun 2024. Penulis bisa disapa di Instagram @arisaridewi

© Sepenuhnya. All rights reserved.