Oleh Arief Munandar
Di sudut paling belakang kelas VIII-B, tepat di samping lemari kayu berisi piala-piala berdebu, duduk seorang anak perempuan bernama Livia. Rambutnya selalu dikepang dua, rapi seperti ingin membuktikan bahwa hidupnya tidak sekacau bisik-bisik yang beredar tentangnya. Ia kelas 2 SMP, usianya tiga belas tahun, tapi matanya menyimpan bayang-bayang kelam yang membuatnya terlihat lebih tua.
Di sekolah itu, Livia bukan siapa-siapa. Ia bukan juara kelas, bukan anggota OSIS, bukan pula siswi populer dengan tas mahal dan sepatu bermerek. Ia adalah anak yang jarang duduk kumpul dengan siswa-siswi lainnya. Anak yang namanya hanya terdengar saat guru memanggil absen.
Namun bagi sebagian orang, Livia bukan sekadar tak terlihat. Ia adalah target.
“Eh, hati-hati. Nanti kamu ketularan sepi,” bisik Rena suatu pagi, disambut tawa kecil dua temannya.
Livia hanya menunduk. Ia sudah hafal cara menelan kata-kata tanpa mengunyahnya. Ia tahu, melawan hanya akan membuatnya makin menjadi bahan cerita.
Bullying di sekolah itu tak pernah berupa pukulan. Tidak ada lebam, tidak ada darah. Yang ada hanyalah bangku yang sengaja digeser menjauh, pesan-pesan di grup kelas yang tak pernah menyebut namanya, dan tawa yang berhenti tiba-tiba saat ia mendekat. Sunyi yang terorganisir.
Sepulang sekolah, Livia tidak pernah langsung pulang ke rumah. Ia lebih sering berlama-lama di perpustakaan atau duduk di bangku taman dekat lapangan basket. Di sana, ia menulis.
Ia punya buku catatan harian bersampul biru tua. Di halaman pertama, tertulis dengan tinta hitam:
“Untuk diriku yang mungkin suatu hari akan mengerti.”
Livia menulis hampir setiap hari. Tentang ejekan. Tentang rasa sesak di dada. Tentang ibunya yang selalu pulang larut malam karena bekerja di rumah sakit. Tentang ayahnya yang lebih sering berada di luar kota dan ketika pulang pun lebih banyak diam, sibuk dengan layar ponselnya.
Di rumah, Livia bukan korban ejekan. Ia hanya… tidak ada.
Suatu malam, saat hujan mengguyur atap rumah dengan suara seperti ribuan jari mengetuk, Livia menulis kalimat yang berbeda:
“Andai ada seseorang yang mau benar-benar membaca aku.”
Ia menutup buku itu, menyelipkannya di bawah bantal, dan tertidur dengan mata sembap.
Keesokan harinya di sekolah, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat jam istirahat, Rena mendekati bangku Livia dengan wajah pucat.
“Kamu… kamu nulis tentang aku?” tanyanya lirih.
Livia mengangkat wajahnya. “Menulis apa?”
Rena mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. Di sana tertulis kalimat yang sangat dikenal Livia:
“Rena takut sendirian. Makanya ia membuat orang lain merasa lebih kecil.”
Itu kalimat dari buku hariannya.
Livia membeku. Buku biru itu masih di bawah bantal semalam. Ia yakin.
Sejak hari itu, potongan-potongan tulisan dari catatan hariannya mulai muncul di berbagai sudut sekolah. Di papan pengumuman. Di dalam loker. Bahkan di grup WhatsApp kelas, seseorang memfoto halaman yang jelas-jelas diambil dari bukunya.
Tulisan itu tak hanya tentang Rena. Ada tentang guru matematika yang sering terlihat tegar tapi menyembunyikan kesedihan karena perceraian. Ada juga tentang Arga, anak paling berisik di kelas, yang sebenarnya setiap sore menunggu ibunya pulang dari penjara.
Semua rahasia itu… benar.
Bagaimana mungkin?
Sekolah berubah menjadi ruang penuh kecurigaan. Orang-orang saling menatap dengan waspada. Seolah ada mata tak terlihat yang membaca pikiran mereka.
Livia mulai merasa takut. Bukan karena dibenci. Ia sudah terbiasa dengan itu. Tapi karena ia tak tahu bagaimana buku hariannya bisa tahu lebih banyak daripada dirinya sendiri.
Suatu sore, ia kembali ke perpustakaan. Ia membuka buku birunya. Halaman-halamannya kini terasa lebih tebal. Saat ia membalik ke bagian tengah, jantungnya berdegup kencang.
Ada tulisan yang bukan miliknya.
“Kau ingin didengar. Maka aku akan membuat mereka mendengarmu.”
Tinta itu berwarna merah, berbeda dari pena hitam yang biasa ia pakai.
Livia menutup buku itu dengan tangan gemetar.
“Siapa kamu?” bisiknya.
Angin dari jendela berembus, membalik halaman terakhir. Di sana tertulis lagi:
“Aku adalah bagian darimu yang tak pernah mereka lihat.”
Sejak itu, setiap kali Livia merasa disakiti, buku itu seperti bereaksi. Keesokan harinya, rahasia orang yang menyakitinya akan terbuka dengan cara yang misterius. Bukan untuk mempermalukan, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka juga rapuh.
Perlahan, suasana kelas berubah.
Arga tak lagi terlalu berisik. Rena mulai lebih sering diam. Bahkan suatu hari, ia duduk di sebelah Livia tanpa berkata apa-apa.
“Aku… maaf,” ucapnya akhirnya.
Livia tidak tahu harus menjawab apa. Hatinya hangat, tapi juga takut.
Karena setiap perubahan itu selalu didahului oleh tulisan baru yang muncul sendiri di bukunya.
Suatu malam, setelah pertengkaran kecil antara ayah dan ibunya tentang pekerjaan dan uang, Livia mengurung diri di kamar. Ia membuka buku biru itu dengan napas berat.
“Kalau kamu memang bagian dariku,” katanya pelan, “kenapa kamu tahu semua rahasia mereka?”
Halaman kosong di depannya perlahan terisi.
“Karena kau selalu mengamati. Kau yang mengumpulkan serpihan cerita. Aku hanya menyusunnya.”
Livia terdiam.
Selama ini, ia memang selalu memperhatikan. Ekspresi kecil. Nada suara yang berubah. Tatapan yang terlalu lama tertunduk. Ia menyimpan semuanya, tanpa sadar.
“Aku tak ingin menyakiti mereka,” tulisnya dengan tangan gemetar.
Jawaban muncul:
“Aku tidak menyakiti. Aku hanya mengingatkan.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Livia menangis bukan karena ejekan. Ia menangis karena sadar: ia tidak benar-benar sendirian. Ada sesuatu dalam dirinya yang kuat, yang tak lagi mau diam.
Namun keesokan harinya, keadaan menjadi jauh lebih tegang.
Di papan tulis kelas, sebelum guru datang, tertulis kalimat besar dengan kapur putih:
“Yang paling diabaikan adalah yang paling tahu segalanya.”
Semua mata memandang Livia.
“Kamu, kan?” tuduh seseorang.
Kali ini tak ada tawa. Hanya ketakutan.
Livia berdiri. Tangannya dingin. Ia ingin menyangkal, ingin berkata bahwa ia juga korban. Tapi kata-kata tak keluar.
Di tasnya, buku biru itu terasa berat.
Saat jam pelajaran selesai, ia membuka halaman terakhir.
Kosong.
Untuk pertama kalinya, tidak ada tulisan merah.
“Kenapa?” bisiknya.
Tak ada jawaban.
Sepulang sekolah, ia berlari menuju rumah. Di kamar, ia mencari buku itu di dalam tas. Tidak ada. Ia membongkar laci, kolong tempat tidur, bahkan tempat sampah.
Buku itu lenyap.
Di meja belajarnya, hanya ada secarik kertas kecil.
“Sekarang mereka sudah melihatmu. Sisanya adalah pilihanmu.”
Malam itu, ibunya mengetuk pintu kamar. “Livia, boleh Mama masuk?”
Sudah lama sekali ibunya tidak melakukan itu.
Ibunya duduk di tepi tempat tidur. “Mama dengar… ada masalah di sekolah.”
Livia menatap wajah lelah itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diabaikan. Ia merasa dilihat.
“Aku cuma… capek jadi nggak ada,” bisiknya.
Ibunya memeluknya erat. Hangat. Nyata.
Keesokan harinya di sekolah, Livia berjalan melewati koridor dengan langkah yang berbeda. Beberapa teman sekelasnya masih menatapnya aneh, tapi tak ada lagi bisik-bisik sekejam dulu.
Rena mendekat. “Kita… bisa mulai lagi?”
Livia mengangguk pelan.
Namun saat ia membuka loker untuk mengambil buku pelajaran, ia membeku.
Di dalamnya, tergeletak buku bersampul biru tua.
Ia yakin semalam buku itu tidak ada.
Dengan napas tertahan, ia membukanya.
Halaman-halamannya kosong. Hingga ia sampai di halaman paling akhir.
Di sana, dengan tinta merah yang sama, tertulis:
“Kisah ini belum selesai.”
Livia menutup buku itu perlahan.
Di ujung koridor, seseorang berdiri memperhatikannya. Wajahnya samar, seperti bayangan yang tak sepenuhnya ada.
Saat Livia berkedip, sosok itu menghilang.
Ia menggenggam buku itu erat-erat.
Untuk pertama kalinya, ia tak tahu apakah ia takut… atau justru merasa siap.
Dan di antara suara bel masuk yang menggema dan langkah kaki siswa yang berlarian, satu pertanyaan menggantung di udara sekolah itu:
Siapa sebenarnya yang selama ini menulis catatan harian itu?