Oleh Arief Munandar
Langit desa itu selalu tampak lebih luas setiap sore, seolah mampu menampung segala rahasia yang dipendam warganya. Di antara hamparan sawah yang mulai menguning dan jalanan yang berdebu, rumah kayu milik Rendy dan Sinta terlihat begitu sederhana. Catnya mulai pudar, tetapi halaman depannya tetap rapi, dengan bunga kertas yang tumbuh liar.
Rendy dikenal sebagai lelaki pekerja keras. Setiap pagi ia berangkat ke sawah sebelum matahari benar-benar menampakkan diri. Tubuhnya tegap, kulitnya menggelap karena sering kena terik matahari, dan matanya menyimpan ketenangan yang jarang dimiliki lelaki seusianya. Sinta, istrinya, adalah perempuan lembut dengan senyum yang mampu meredakan amarah. Ia mengurus rumah, memasak, dan kadang membantu ibunya berjualan di pasar.
Orang-orang menganggap rumah tangga mereka baik-baik saja. Namun, seperti tanah yang retak sebelum hujan, keretakan kecil kadang tak terlihat sebelum semuanya terlambat.
Beberapa bulan terakhir, Rendy merasa ada yang berubah dari Sinta. Perempuan itu sering termenung di teras rumah saat senja. Tatapannya kosong, seakan menunggu sesuatu yang tak pernah datang. Jika Rendy bertanya, ia hanya menjawab singkat.
“Tidak apa-apa. Aku hanya lelah.”
Lelah adalah kata yang sederhana, tetapi menyimpan makna yang luas. Rendy mencoba percaya. Ia ingin percaya.
Namun, suatu sore, ketika Rendy pulang lebih awal karena hujan turun deras, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Di bawah pohon mangga dekat rumah, Sinta berdiri bersama seorang lelaki asing. Lelaki itu tampak lebih muda, berpakaian rapi, dan berbicara dengan nada akrab.
Rendy tidak langsung mendekat. Ia berdiri di balik tirai hujan, mendengar potongan kalimat yang terhempas angin.
“Aku tak bisa terus seperti ini, Sin,” ujar lelaki itu pelan.
Sinta menunduk. “Aku tahu.”
Hujan turun makin deras. Rendy merasa dunia yang selama ini ia bangun perlahan runtuh seperti tanah longsor di tebing sawah. Ia melangkah mundur, membiarkan tubuhnya basah. Dan hatinya jauh lebih basah.
Malam itu, ia tidak bertanya. Ia hanya makan dalam diam, sementara Sinta terlihat gelisah. Kesunyian di antara mereka seperti dinding tak terlihat yang makin hari makin tinggi.
Dulu, Rendy mengenal Sinta di pasar. Saat itu Sinta masih remaja, membantu ibunya menjual sayur. Rendy sering sengaja membeli cabai lebih banyak hanya untuk melihat senyumnya. Cinta mereka tumbuh pelan, seperti benih padi yang ditanam dengan sabar.
Mereka menikah tanpa pesta mewah. Hanya doa, nasi tumpeng sederhana, dan janji yang diucapkan di depan keluarga. Rendy berjanji akan menjaga Sinta seumur hidupnya. Sinta berjanji akan setia.
Namun hidup tak selalu seindah janji. Setelah lima tahun menikah, mereka belum juga dikaruniai anak. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Sinta yang paling merasakannya. Ia sering disalahkan secara halus, dianggap tak mampu memberi keturunan.
Rendy selalu membelanya.
“Anak bukan satu-satunya alasan kita menikah,” katanya suatu malam.
Sinta tersenyum, tetapi ada luka yang tak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata.
Beberapa hari setelah kejadian di bawah pohon mangga, Rendy akhirnya bertanya.
“Siapa lelaki itu?”
Sinta terdiam lama. Udara di ruang tamu terasa berat.
“Dia Arman,” jawabnya lirih. “Teman lamaku.”
“Teman?” Nada Rendy datar, tetapi matanya menyimpan badai.
Sinta mengangguk. “Dulu sebelum aku mengenalmu, kami pernah dekat.”
Kata-kata itu seperti pisau yang perlahan ditarik dari luka lama—pelan tapi menyakitkan.
“Dan sekarang?”
Sinta menggigit bibirnya. “Dia mengajakku pergi. Ke kota. Katanya hidupku akan lebih baik di sana.”
Rendy tertawa kecil, pahit. “Lalu?”
“Aku tidak tahu.”
Kejujuran kadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Tetapi Rendy memilih mendengarnya.
Malam itu, Rendy tak bisa tidur. Ia menatap langit-langit rumahnya yang mulai lapuk. Ia sadar, selama ini ia terlalu sibuk bekerja. Ia mencintai Sinta, tetapi mungkin lupa menunjukkan cinta itu. Ia mengira kesetiaan adalah sesuatu yang otomatis lahir dari pernikahan. Padahal, cinta harus dirawat seperti sawah yang setiap hari perlu disiangi.
Hari-hari berikutnya terasa tegang. Arman beberapa kali terlihat di desa. Bisik-bisik warga mulai terdengar. Sinta semakin sering terlihat gelisah.
Suatu sore, Sinta berkata pelan, “Mas, aku ingin bicara.”
Rendy mengangguk.
“Aku memang sempat tergoda,” katanya dengan mata berkaca-kaca. “Aku merasa gagal menjadi istri. Aku merasa tidak berguna karena tak bisa memberimu anak. Arman datang membawa janji—kehidupan baru, kemungkinan baru.”
Rendy terdiam. Hatinya terasa diremas.
“Tapi aku sadar,” lanjut Sinta, suaranya bergetar, “aku tidak mencintainya. Aku hanya takut. Takut kehilangan harga diri. Takut menjadi beban.”
Air mata jatuh di pipinya.
Rendy berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memegang tangan Sinta.
“Kita gagal bersama, bukan kamu sendiri,” katanya pelan. “Kalau memang takdir kita tanpa anak, kita tetap keluarga.”
Sinta menangis dalam pelukannya. Tangis itu bukan hanya tentang Arman, tetapi tentang rasa bersalah, tekanan, dan cinta yang hampir tersesat.
Keesokan harinya, Sinta menemui Arman di bawah pohon mangga yang sama.
“Aku tidak ikut,” katanya tegas.
Arman menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Kamu memilihnya?”
Sinta mengangguk. “Aku memilih rumahku.”
Arman pergi tanpa banyak kata.
Beberapa minggu kemudian, kabar mengejutkan datang. Arman mengalami kecelakaan di jalan menuju kota. Ia meninggal dunia.
Desa kembali sunyi. Sinta mendengar kabar itu dengan perasaan campur aduk—sedih, bersalah, sekaligus lega. Ia menyadari betapa dekatnya ia dengan jurang yang mungkin akan menghancurkan semuanya.
Suatu malam, Sinta berkata kepada Rendy, “Terima kasih karena mau mendengarkanku.”
Rendy tersenyum lelah. “Terima kasih karena sudah jujur.”
Namun, kehidupan belum selesai memberi kejutan.
Beberapa bulan kemudian, Sinta mulai sering mual. Ia mengira hanya masuk angin. Tetapi bidan desa tersenyum ketika memeriksanya.
“Selamat,” kata bidan itu. “Kamu hamil.”
Dunia seakan berhenti sejenak.
Sinta pulang dengan air mata bahagia. Rendy memeluknya erat. Mereka tertawa dan menangis bersamaan.
Namun malam itu, ketika Rendy sendirian di teras, wajahnya tidak sepenuhnya bahagia. Ia menghitung waktu di kepalanya. Ia teringat hari-hari ketika Sinta sering bertemu Arman.
Angin desa berembus pelan, membawa suara jangkrik.
Ia masuk ke kamar, menatap Sinta yang tertidur dengan tangan memeluk perutnya yang masih rata. Wajah perempuan itu terlihat begitu damai.
Rendy duduk di tepi ranjang.
Ia tahu satu hal: cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memilih untuk percaya.
Anak itu, siapa pun darahnya, akan lahir dalam keluarganya. Ia akan membesarkannya dengan kasih yang sama seperti ia mencintai Sinta—tanpa syarat.
Karena pada akhirnya, pengkhianatan yang paling besar bukanlah ketika hati sempat tergoda, melainkan ketika seseorang memilih berhenti mencintai.
Dan Rendy memilih tetap mencintai.