Konflik di Sekolah

Cerpen ini bercerita tentang konflik batin, kecemburuan, dan pelajaran tentang kepercayaan dalam tim saat tiga sahabat menghadapi lomba cerdas cermat.

Oleh Arief Munandar

Pada suatu pagi yang cerah di SD Nusantara, halaman sekolah sudah dipenuhi suara tawa anak-anak. Mereka berlari, bermain, dan saling menyapa sebelum bel masuk berbunyi. Di antara keramaian itu, seorang anak perempuan bernama Siska berjalan pelan sambil memeluk buku-bukunya.

Cerpen Konflik di Sekolah

Siska adalah murid kelas 5 yang dikenal rajin dan ramah. Rambutnya selalu dikepang dua, dan ia jarang terlihat tanpa senyum. Namun pagi itu, wajahnya sedikit muram. Ia baru saja mengalami hal yang membuat hatinya tidak nyaman.

Beberapa hari sebelumnya, guru kelas mereka, Bu Rani, mengumumkan bahwa kelas 5 akan mengikuti lomba cerdas cermat antar kelas. Setiap kelas harus mengirimkan tiga perwakilan. Setelah berdiskusi, teman-teman memilih Siska, Dinda, dan Dika sebagai tim mereka.

Awalnya semua berjalan baik. Mereka belajar bersama sepulang sekolah di perpustakaan. Siska biasanya membawa catatan rapi, Dinda pandai menghafal, dan Dika cepat memahami soal logika.

Namun suatu siang, sesuatu terjadi.

“Aku yakin jawaban ini salah,” kata Dika sambil menunjuk buku latihan.

“Tidak mungkin,” balas Dinda dengan nada kesal. “Aku sudah cek di buku pelajaran.”

Siska mencoba menengahi. “Mungkin kita bisa cek lagi di buku lain?”

Tetapi suasana sudah mulai panas.

“Kenapa selalu harus ikut kata Siska?” tiba-tiba Dinda berkata dengan suara meninggi. “Seolah-olah dia paling benar.”

Siska terdiam. Ia tidak pernah bermaksud begitu.

Dika juga tampak bingung. “Din, Siska cuma mencoba membantu.”

Namun Dinda sudah menutup bukunya dengan keras.

“Aku pulang dulu!” katanya sebelum berjalan keluar dari perpustakaan.

Sejak saat itu, suasana di kelas berubah.

Dinda jarang berbicara dengan Siska. Saat latihan, ia lebih banyak diam. Siska merasa bersalah, walau ia tidak benar-benar tahu kesalahannya.

Suatu pagi saat jam istirahat, Siska duduk di bangku taman sekolah sambil memandangi lapangan. Dika datang dan duduk di sebelahnya.

“Kamu kepikiran ya?” tanya Dika.

Siska mengangguk pelan.

“Aku tidak mengerti kenapa Dinda marah,” katanya lirih. “Aku hanya ingin kita menang bersama.”

Dika menghela napas. “Mungkin dia sedang tertekan.”

“Tekanan?”

“Iya. Aku dengar dari teman kelas lain, orang tua Dinda ingin dia selalu jadi yang terbaik.”

Siska terdiam. Ia tidak pernah memikirkan itu sebelumnya.

Hari lomba semakin dekat, tetapi latihan mereka semakin tidak nyaman. Setiap diskusi terasa tegang. Kadang Dinda sengaja tidak menanggapi Siska.

Bu Rani mulai menyadari perubahan itu.

Suatu hari setelah pelajaran selesai, Bu Rani memanggil mereka bertiga.

“Kalian tim yang pintar,” kata Bu Rani dengan lembut. “Tapi kemenangan bukan hanya soal jawaban benar. Kalian juga harus saling percaya.”

Ketiganya saling menatap, tetapi tidak ada yang berbicara.

Beberapa hari kemudian, lomba akhirnya tiba.

Aula sekolah dipenuhi murid-murid dari berbagai kelas. Suasana ramai dan penuh semangat.

Siska duduk di kursi tim dengan jantung berdebar. Di sebelahnya Dika tampak fokus, sementara Dinda menatap papan skor tanpa berkata apa-apa.

Babak pertama berjalan lancar. Mereka menjawab beberapa soal dengan benar.

Namun di babak kedua, muncul soal yang sulit.

“Pertanyaan untuk tim kelas 5B,” kata juri.

Siska membaca soal di layar. Ia merasa tahu jawabannya.

“Jawabannya…,” Siska mulai berkata.

“Tunggu,” potong Dinda cepat. “Aku yakin itu bukan.”

“Din—”

“Tulis jawabanku saja,” kata Dinda tegas kepada panitia.

Beberapa detik terasa sangat lama.

Jawaban mereka diumumkan.

“Salah.”

Suasana aula mendadak hening. Tim lain berhasil mengambil kesempatan dan menjawab dengan benar.

Poin mereka tertinggal jauh.

Setelah lomba selesai, tim mereka tidak berhasil menang.

Di luar aula, Dinda berdiri sendirian dengan wajah pucat. Dika terlihat kecewa, tetapi tidak berkata apa-apa.

Siska mendekat pelan.

“Din… tidak apa-apa,” kata Siska.

Dinda menunduk.

“Aku yang salah,” bisiknya.

Siska terkejut.

“Aku tahu jawabanmu tadi benar,” lanjut Dinda. “Tapi aku… aku tidak ingin kamu terlihat lebih pintar dariku.”

Kata-kata itu membuat Siska terdiam.

Angin bertiup pelan di halaman sekolah waktu itu.

“Aku iri,” kata Dinda lagi, suaranya gemetar. “Semua orang selalu memuji kamu.”

Siska menatap sahabatnya itu dengan lembut.

“Din,” katanya pelan. “Aku tidak pernah ingin bersaing denganmu.”

Dinda mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku ingin kita jadi tim,” lanjut Siska. “Bukan lawan.”

Air mata mulai mengalir di pipi Dinda.

“Aku minta maaf.”

Siska tersenyum kecil lalu memeluknya.

Dika yang berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya ikut mendekat.

“Kalau kalian sudah damai,” katanya sambil mengangkat alis, “mungkin kita bisa mulai latihan lagi tahun depan.”

Mereka bertiga tertawa kecil.

Namun saat mereka berjalan kembali ke kelas, Dika tiba-tiba berhenti.

“Eh… tunggu,” katanya.

“Ada apa?” tanya Siska.

Dika menunjuk papan pengumuman di depan ruang guru.

Di sana tertempel sebuah pengumuman baru.

“Tim Cerdas Cermat SD Nusantara akan mewakili sekolah ke lomba tingkat kota.”

Nama tiga siswa tercantum di bawahnya.

Siska membaca daftar itu dengan mata membesar.

Nama pertama: Siska

Nama kedua: Dika

Dan nama ketiga…

Bukan Dinda.

Melainkan Lala dari kelas 5A.

Dinda juga membaca pengumuman itu.

Wajahnya membeku.

Siska menoleh perlahan ke arah sahabatnya.

Suasana yang tadi terasa hangat mendadak kembali tegang.

Di lorong sekolah yang sunyi, tidak ada yang berbicara.

Sementara itu, dari kejauhan, langkah Bu Rani terdengar mendekat.

Sepertinya… masih ada sesuatu yang belum selesai.

© Sepenuhnya. All rights reserved.