Lelaki dengan Mata Ikan Cupang

Cerpen ini mengangkat kisah tragis Kalu, yang berada di ambang kematian justru menemukan alasan untuk hidup melalui kenangan, persahabatan, dan cinta.

Oleh Salwa Ratri Wahyuni

Mati dengan pemandangan terakhir plafon rumah sakit adalah mimpi terburuk Kalu. Putih, datar, dan tak menarik. Tentu lelaki itu punya cita-cita, salah satunya ialah sekarat di bawah naungan gugusan bintang. Setidaknya, itu lebih baik ketimbang harus menghabiskan sisa-sisa hidupnya di ruangan terkutuk ini. Kalu menyunggingkan senyum masam, mengusir mimpi semunya. Di ranjang rumah sakit itu impiannya terperangkap.

Cerpen Lelaki dengan Mata Ikan Cupang

Suara langkah kaki di kamar membuyarkan lamunannya. Rasi masuk membawa toples kaca kecil berisi ikan cupang berwarna merah kebiruan.

“Udah kuganti airnya,” ucap perempuan itu, menunjukkan hasil pekerjaannya ke hadapan Kalu.

“Baik, terima kasih budakku.”

Yang dibilang begitu langsung melotot ke arah lelaki yang tengah berbaring bersama selang infus itu. 

Tak mau perempuan itu ngomel, spontan saja Kalu bertanya, “Ras, kamu sudah menggerakkan perekonomian negara hari ini?” sebuah usaha untuk mengalihkan perhatian Rasi. 

Rasi mulanya terkekeh kecil mendengar pertanyaan Kalu. “Yo wes loh, Kal. Aku tuku mie ayam dua belas ribu sama es teh lima ribu tadi.” 

Gantian kini Kalu yang terkekeh. “Yo, aku gagal melu nulungi perputaran ekonomi negara, Ras.” Ekspresi Kalu berganti muram. Sebuah pencitraan yang berhasil membuat Rasi mendengus. “Saben dino mangan panganan omah sakit.” Kalu menggelang-geleng. 

Malam perlahan turun.

Rasi menatap Kalu yang terbaring diam di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, matanya terpejam rapat. Rasi menarik napas panjang, menatap Kalu sejenak sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar ruangan. Pintu kamar perlahan tertutup, menyisakan Kalu seorang diri.

Hening.

Kelopak mata Kalu perlahan terbuka. Jari-jarinya yang pucat bergerak, menyentuh selang infus di lengannya. Dengan satu tarikan pelan namun mantap, ia mencabutnya. Cairan infus menetes ke lantai, bercampur dengan darah dari lukanya yang terbuka.

Kalu duduk perlahan di tepi ranjang. Matanya kosong menatap lantai sebelum akhirnya menjejakkan kakinya ke lantai dingin. Napasnya berat, tapi langkahnya mantap. Ia mengenakan jaket yang tergeletak di sebelah nakas dan berjalan keluar, perlahan langkahnya santai menyusuri lorong rumah sakit.

Tidak ada yang memperhatikannya. Keberadaannya seolah hilang di antara lorong sunyi dan derap langkah suster yang sibuk dengan pekerjaanya masing-masing.

Begitu keluar dari gedung rumah sakit, Kalu terus berjalan. Kali ini langkahnya gontai, matanya tajam menatap gelapnya malam. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi ia tak peduli. Di seberang jalan, lampu toserba 24 jam menyala terang, menarik perhatiannya.

Tanpa banyak pikir, Kalu masuk ke dalam. Hawa mesin pendingin bercampur wangi pengharum ruangan menyambutnya. Ia berjalan menuju rak rokok di belakang kasir. Menunjuk rokok di rak paling atas.

Kasir menyerahkan bungkus rokok dan Kalu membayar dengan lembaran uang lusuh. Ia keluar tanpa mengucap terima kasih.

Di depan toserba, terdapat beberapa bangku besi berjejer. Kalu duduk di salah satu bangku, menyandarkan punggung, dan menyalakan rokok. Asap tipis melayang, bercampur dengan udara malam.

Tak lama, seorang bapak-bapak paruh baya datang dan duduk di bangku sebelahnya. Wajahnya lelah, kulitnya kusam. Ia membawa kantong plastik kecil berisi sebungkus mi instan dan air mineral.

Kalu melirik sekilas. Hening menyelimuti mereka.

Tanpa banyak bicara, Kalu menyodorkan sebungkus rokok ke arah pria itu.

"Mau, Pak?" tawarnya singkat.

Pria itu menoleh perlahan. Sorot matanya tajam. "Enggak, Nak. Udah lama saya berhenti," jawabnya pelan.

Kalu menarik kembali tangannya. "Oh."

Namun, pria itu melanjutkan, suaranya berat. "Dulu saya perokok berat. Anak saya meninggal karena kanker paru-paru."

Kalu diam. Tak merespons.

"Dia masih kecil. Kena kanker karena saya. Karena asap rokok saya. Rumah kecil, kamar sempit. Dia jadi perokok pasif tanpa saya sadari. Ekonomi susah, nggak bisa berobat. Akhirnya, dia pergi."

Suara pria itu bergetar, tapi wajahnya tetap tenang. "Sejak itu, saya nggak pernah sentuh rokok lagi.”

Rokok di tangan Kalu masih menyala, asapnya melayang perlahan. Tapi rasanya jadi aneh ketika ia menghisapnya lagi. Pahit. Getir.

"Sekarang saya punya asam urat. Udah nggak bisa kerja. Tinggal tunggu dipanggil Tuhan." Pria itu menarik napas panjang. "Tapi saya nggak takut mati. Karena saya bakal ketemu anak saya di atas sana,” lanjutnya seraya tersenyum lebar sekali. 

Kalu mencabut rokok dari bibirnya, mematikannya, lalu mematahkan benda itu hingga serbuk-serbuk di dalamnya mencuat.

"Maaf, Pak," lirih Kalu.

Si pria paruh baya hanya menghela napas. "Udah. Cuma hati-hati aja, Nak.” 

Mereka kembali diam. Kalu menatap langit malam yang gelap. Tak ada bintang. Perlahan, ia meremas bungkus rokoknya, lalu melemparkannya ke tempat sampah. 

***

Suasana malam di Rumah Belajar Merdeka terasa hangat. Lampu kuning, sebagai satu-satunya penerangan di bangunan sempit itu menggantung rapuh, sesekali dua menit ia berkedip, pertanda usianya telah uzur.

Wajah-wajah polos itu menatap Niskala antusias. Setelah salat Isya mereka semua duduk melingkar. Niskala duduk di depan mereka, mulai mendongeng seperti kebiasaannya.

"Jadi di negeri seberang ada kaisar yang mau anak-anak di negerinya pintar. Puluhan sekolah di bangun, kita sebut aja namanya sekolah elit kacang garuda."

Beberapa anak tertawa mendengar nama sekolah tersebut. 

"Gimana coba caranya si kaisar ini bangun sekolah?" Niskala melempar tanya. 

Salah seorang dari mereka, Bedul menebak, "Ngumpulin duit rakyat, yo mas?"

"Tetot." Niskala menyilangkan tangan

"Jual aset negara pasti yo mas?" tebak seorang pula. 

Niskala menggeleng. "Lebih canggih dari itu."

"Ngutang," jawab seorang anak yang berbadan agak berisi. 

Niskala tidak memberikan jawaban. Ia hanya tertawa mendengar jawaban anak-anak itu. 

"Singkat cerita kaisar ini mumet teman-teman, karena nggak mau lama-lama, akhirnya dia tebang hutan rimba buat pembangunan sekolah," lanjut Niskala. 

"Terus hutannya piye mas?" 

"Yo ditebang ges." 

"Pasti nanti pohonnya diambil tukang kayu," Bedul merasa paling yakin. 

"Tonggoku loh, dodolan kayu, dadi wong sugeh," balas yang lain. 

"Jare bapakku jati larang. Tonggoku kui ngarep omah e ono kursi jati."

"Pak Wowo, po ra?"

Bocah kriwil itu mengangguk. "Tapi dapurnya busuk. Kemproh. Kemaren aku liat tikus di dapurnya, banyak."

“Yang penting ngarep e apik toh,” balas yang lain.

"Nggo tamu. Kalo dapurnya busuk kan udah terbiasa yang pakai orang rumah. Neng dapure dibiarin wuakeh tikus berkeliaran, kan yang pake orang rumah." 

"Itu yang namanya pencitraan. Maunya bagus neng ngarep wae, burine amburadul," sahut Niskala menanggapi percakapan anak-anak itu. 

*di depan aja, belakangnya jelek

Yang lain mengangguk-angguk sok paham. 

"Trus kelanjutannya gimana, Mas?" Bedul masih penasaran dengan kelanjutan cerita yang dibawakan Niskala. 

"Sekolahnya dibangun, fasilitasnya muantep poll. tapi yang boleh sekolah anak-anak terpilih," sambung Niskala. 

"Anak miskin oleh po ora?"

"Anak wong miskin ngintip wae." 

Jawaban asal Niskala itu membuat mereka semua tertawa. 

"Padahal kan anak petani juga mau pinter, Mas!"

"Anak tambal ban juga bisa jadi insinyur!"

"Betul. Tapi Kaisar pura-pura nggak denger. Dia sibuk mikirin gimana biar sekolahnya kelihatan keren di mata negeri lain. Bahkan dia undang wartawan buat liputan. Foto-foto sekolahnya dipasang di mana-mana."

Yang lain mengangguk-angguk sambil mencemooh tingkah sang kaisar. 

"Jadi, menurut kalian, apa yang harus dilakukan rakyat di negeri seberang itu?" tanya Niskala perlahan.

Seorang anak mengangkat tangan ragu-ragu. "Harusnya rakyat berani ngomong, Mas. Biar Kaisarnya sadar kalau salah."

"Naiss, bro! Itu salah satunya fungsi cangkem, salah satunya buat kritik hahaha." Tawa Niskala merambat ke anak-anak itu. 

Di tengah gelak tawa dan obrolan seru di Rumah Belajar Merdeka, suara derit pintu kayu pelan-pelan terbuka. Semua kepala serentak menoleh ke arah pintu. Di sana, berdiri Kalu. Rambutnya agak acak-acakan. Mengenakan jaket lusuh yang menutupi baju pasien rumah sakitnya. Selang infusnya sudah dilepas, tetapi bekas perban masih terlihat di lengannya. Di tangannya, terangkat sebuah kotak martabak yang tampak masih hangat. 

"Numpang lewat. Ada yang laper nggak?" Kalu menyeringai, matanya berkilat jenaka.

"Mas Kalu!" teriak anak-anak serempak. Mereka berhamburan mendekat, wajah mereka penuh antusias.

"Masih hidup Kau, Kal?" celetuk Niskala setengah kaget. 

"Yaelah, doain gue cepet mati." Kalu terkekeh pelan, lalu mendekat ke arah Niskala. 

Niskala mengerutkan dahi, menatap Kalu lekat-lekat. "Kau dari mana? Masih pakai seragam rumah sakit begitu."

"Cari angin," jawab Kalu santai, membuka kotak martabak, memperlihatkan topping cokelat kacang yang meleleh.

"Martabak! Martabak!" seru Kalu mengundang anak-anak itu untuk saling berebutan. Tak lama kemudian mulut dari masing-masing mereka sudah tersumpal oleh martabak cokelat-kacang. 

Niskala masih menatap Kalu, gelisah. "Kau nggak apa-apa jalan sejauh ini?"

“Yoi.’’ Jawabannya singkat, pertanda laki-laki itu tak mau diinterogasi lebih lanjut lagi.

"Mas Kalu, kok pake baju rumah sakit?" tanya Bedul penasaran. 

"Enak gak mas di rumah sakit? Bisa makan tiga kali sehari," timpal yang lain pula. 

"Koyo mayit urip. Makanan di rumah sakit ra wuenak blas, jadi aku kabur sebentar." 

Sontak suara gelak tawa memenuhi bangunan sempit itu. 

***

Kalu baru saja melangkah keluar dari tokoh kecil yang hanya disinari lampu temaram. Di tangan kanannya tergenggam kantong plastik berisi beberapa kaleng cat semprot, kuas, dan alat lainnya. Ia berjalan perlahan, sebuah rencana mengendap di kepalanya.

Tindakan impulsif itu muncul begitu saja di kepalanya. Tiga puluh menit lalu, saat malam mulai larut. Anak-anak sudah pulang, menyisakan Niskala yang membereskan buku-buku. Kalu masih duduk di bangku kayu dekat jendela, menatap keluar dengan pandangan kosong. Beberapa peralatan menggambar anak-anak masih berserakan di meja. Tatapan Kalu beralih pada Niskala yang beranjak mengemasi peralatan menggambar, pikirannya melayang. Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepalanya.

Kini ia berdiri di depan sebuah SD megah—tampak baru dibangun. Gedungnya bercat putih dengan jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya dari lampu jalan. Halamannya luas, dengan taman yang terawat. Bahkan, ada patung burung elang di depan gerbang dengan slogan di bawahnya: "SD Unggul Garuda Nusantara: Melahirkan Generasi Emas".

“Generasi emas? Generasi emas apanya?” pikirnya sinis.

Ia teringat anak-anak di Rumah Belajar Merdeka—anak-anak yang datang dengan pakaian lusuh, tanpa sepatu, dan membawa buku tulis bekas. Anak-anak itu cerdas, penuh semangat, tapi tidak pernah punya kesempatan untuk masuk ke tempat seperti ini. Gedung ini terlalu megah, terlalu steril. Mereka menutup pintunya rapat-rapat dari anak jalanan yang katanya dipelihara negara itu.

Kalu menghela napas panjang. Anak-anak di Rumah Belajar bahkan tidak punya tempat duduk yang layak di kelas, sementara sekolah ini punya kursi taman yang tidak pernah dipakai. Mereka lupa, tidak semua orang bisa terbang. Tidak semua anak lahir dengan sayap emas. Tapi bukannya mengajari mereka untuk terbang, mereka malah memasang tembok tinggi dan menutup gerbang. 

Kalu sudah memutuskan, dinding SD megah itu akan jadi kanvas terakhirnya. Ia membuka kantong plastik, mengeluarkan kaleng cat semprot. Suara bola kecil di dalam kaleng bergemerincing, tangannya mulai bekerja. 

***

Langit sudah semakin gelap, hujan rintik mulai turun. Langkah kakinya yang asal membawa Kalu menyusuri jalan-jalan sepi. Lampu jalan sesekali berkedip, dan suara rintik hujan menjadi latar yang mengiringinya. Ia tidak benar-benar tahu ke mana tujuannya malam itu. Ia hanya ingin berjalan.

Ia baru saja menyelesaikan muralnya, sekarang hujan mulai turun. Pasti gambarnya itu luntur, ia terkekeh sinis dalam hati. Sesekali Kalu akan berhenti di depan toko atau rumah yang tertutup, memandangi apa pun yang menarik perhatiannya. Kepalanya berdenyut, rasa sakit di kepalanya seperti petir yang menyambar tanpa henti.

Mula-mula ia mencoba mengabaikan, mencoba melawan, tapi tubuhnya mulai memberontak. Napasnya memburu, kakinya melemah. Rasa panas mulai mengalir dari hidungnya, menetes ke bibirnya. Kalu menyentuh hidungnya dengan tangan gemetar. Darah. Tapi kali ini lebih deras dari biasanya. Darah itu mengalir, menodai wajah dan bajunya, bercampur dengan air hujan yang mengguyur. Dadanya sesak, dan kepalanya berdenyut semakin kuat. Rasanya seperti ledakan kecil itu terus terjadi di dalam kepalanya.

Langkah terakhir membawanya ke tengah jalan yang kosong. Dengan satu tarikan napas, tubuhnya menyerah. Kalu tumbang di aspal dingin, terbaring di bawah hujan yang semakin menggila. Dingin dan lembap. Kepalanya kini terasa begitu ringan, hampir kosong, namun pikirannya melayang-layang ke tempat yang jauh.

Dalam pandangan yang mulai kabur, lampu jalan menyinari wajahnya yang tenang, seolah semesta ikut memberikan penghormatan terakhir. Entah berapa lama, hingga pendengarannya terasa samar-samar. Seseorang tiba-tiba meneriaki dan mengumpati namanya

"Kalu! Kalu, brengsek!"

Seruan itu makin kencang, tatkala suara langkah kaki menembus aspal becek, terasa makin dekat. Meski penglihatannya kunang-kunang, Kalu akhirnya dapat mengenali seorang yang berteriak marah padanya. Rasi. Benar, itu pasti Rasi. 

"Kalu, bangun! Jangan main-main! Kalau kamu mati, aku yang bakal bunuh kamu duluan! Kubunuh kau, dengar?!" suara perempuan itu pecah di tengah hujan. Tangannya gemetar saat ia mengguncang tubuh Kalu. 

Di belakang Rasi, Niskala datang berlari. Ia membawa payung yang kini sama sekali tidak berguna, tubuhnya tetap basah kuyup dari kepala hingga ujung kaki. Matanya melebar begitu melihat Kalu terbaring di jalan, dan Rasi yang meraung-raung di atasnya. 

Niskala menunduk, menggenggam tangan Kalu yang dingin. "Kalu, kau masih bisa dengar kami, kan? Jangan menyerah... belum saatnya."

Rasi memeluk tubuh Kalu yang dingin, mengguncangnya dengan panik. "Bangun, Kalu! Jangan bodoh!" suaranya gemetar, jelas perempuan itu telah kuyup. Air matanya bercampur dengan hujan.

Kini Kalu merasa dirinya seperti menyatu dengan dunia. Hujan yang deras ini, tangisan Rasi yang pecah-pecah, suara samar Niskala yang memanggil namanya. Senyum bodoh terlukis di wajah lelaki itu. "Akhirnya bom di kepalaku… meledak juga, ya?" gumamnya hampir tak terdengar. 

Dulu, ia selalu menerka-nerka bagaimana akhir dari kematiannya. Kadang ia membayangkan kematiannya di bawah gugusan bintang. Langit malam yang dipenuhi cahaya lembut, seperti ribuan mata yang mengantarnya pergi. Namun kini, ia sekarat di bawah hujan deras. Tidak ada bintang. Tidak ada langit yang tenang.

Seiring dengan kepalanya yang semakin kosong, Kalu menyadari sesuatu yang sangat mendalam: bintang-bintang itu rupanya tak pernah benar-benar jauh. Saat matanya hampir terpejam, ia merasakan Rasi ada di sampingnya, menggenggam tangannya yang sudah semakin dingin. Rasi adalah bintang itu. Bintang yang Kalu cari-cari sepanjang hidupnya, dan kini, di akhir hidupnya, ia baru sadar—bintang itu sudah ada di hadapannya, selalu ada, tak pernah pergi.

Kalu tersenyum kecil meski kepayahan. Kalau begitu, kehidupannya tidaklah seburuk yang ia kira. Ia telah hidup cukup baik. Tiba-tiba sebuah rasa berbeda muncul dari dalam dirinya. Ada yang aneh. Dorongan kecil di dalam dirinya, nyala api yang hampir padam. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kalu ingin hidup. Ia sungguh-sungguh ingin hidup.

Dia benar-benar ingin hidup. Dia ingin melihat Rasi marah-marah lagi, ingin mendengar Niskala mendongeng setiap hari, ingin makan martabak bersama anak-anak itu di rumah belajar. Dia ingin melihat lebih banyak, melakukan lebih banyak, merasakan lebih banyak.

Ia ingin memeluk Rasi, bintangnya yang tak pernah berhenti bercahaya. Sungguh, ia ingin mencintai perempuan itu lebih lama lagi.

Namun, tubuhnya tidak sependapat. Detak jantungnya mulai melemah, napasnya semakin pelan, dan rasa dingin menusuk hingga ke tulang. Matanya berat, sangat berat. Cahaya di sekelilingnya mulai memudar,

Kedua kelopak mata itu perlahan redup. Sejak dulu Rasi sadar, Kalu punya mata yang cantik. Mata yang berkilat layaknya sisik ikan cupang. Mata yang selama ini selalu ia kagumi. Warna yang pernah begitu hidup, yang pernah melawan takdir dengan keras kepala, penuh keberanian, seolah mampu menantang dunia. Kini, perlahan Lelaki dengan mata ikan cupang itu kehilangan cahayanya.

Salwa Ratri Wahyuni

Biodata Penulis:

Salwa Ratri Wahyuni, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di LPK Unand. Suka jeruk dan punya kucing bernama Ameng. Instagram: @hellosalwaa_

© Sepenuhnya. All rights reserved.