Penyelamat di Balik Payung yang Patah

Cerpen ini menceritakan Kanaya yang menghadapi banjir di kota Padang dan menerima pesan misterius yang memperingatkannya tentang jembatan retak.

Oleh Nia Rahmayuni

Hujan sudah turun sejak subuh, tapi Kanaya baru sadar betapa derasnya ketika ia membuka jendela kos di Pasar Baru. Biasanya hanya riak kecil yang muncul di jalan sempit depan kos, tapi pagi itu air sudah mengalir seperti parit penuh. Warnanya keruh, bercampur sampah kecil yang hanyut entah dari mana. Kos masih sepi, kebanyakan penghuni masih tidur atau mungkin enggan beranjak dari kasur. Kanaya mengenakan jaket karena udara dingin masuk dari celah ventilasi. Ponselnya bergetar terus-menerus.

“Kuranji meluap.”

“Ulak Karang parah.”

“Air Tawar kebanjiran sampai dapur.”

Cerpen Penyelamat di Balik Payung yang Patah

Ia menggeser pesan-pesan itu tanpa benar-benar membacanya satu per-satu, ia sedikit panik tapi ia mengabaikan karena ingin keluar membeli telur menggunakan motor dan mantel yang ingin dikenakannya, toko tersebut tak jauh dari kos, Kanaya hanya melewati jembatan dan menempuh waktu beberapa menit saja. Rasanya terlalu banyak hal terjadi dalam waktu yang bersamaan, hujan, jalanan tergenang, grup WhatsApp tiba-tiba seperti sirine digital. Kanaya hendak turun ke lantai bawah ketika pesan dari nomor tak dikenal masuk.

“Jangan keluar siang ini.” Ia mengerutkan kening, tidak ada nama, tidak ada konteks. Baru ia hendak menghapusnya, sebuah pesan kedua muncul.

“Jangan lewat jembatan kecil dekat toko bordir itu.” Kanaya berhenti. Jembatan kecil yang dimaksud hanya beberapa menit dari kos, jalur yang hampir setiap hari ia lewati. Ia membalas singkat : "Siapa?"

Tidak ada balasan. Kanaya mengurungkan niatnya untuk keluar hari ini. Ia mengembuskan napas, berusaha menghilangkan rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul, kemungkinan salah kirim, mungkin juga iseng, atau mungkin memang ada apa-apa di jembatan itu sehingga Kanaya menjadi kebingungan .Dan yang paling membuat tidak nyaman adalah ia memikirkan hal itu lebih lama dari yang seharusnya.

Menjelang siang, air semakin naik. Salsa, teman kosnya, mengetuk pintu. “Nay, orang depan udah panik. Air udah masuk rumahnya.” Mereka turun bersama. Di depan kos, warga sibuk memindahkan barang-barang, kasur digulung, kompor dinaikkan, karung beras diangkat ke meja. Daripada berdiri saja, Kanaya ikut membantu.

Suasana semakin kacau, warga saling memanggil, saling mengingatkan, dan saling memindahkan barang pentin ketempat yang lebih aman. Hujan tidak menunjukkan tanda berhenti, tapi semua orang bergerak semampunya. Saat mereka kembali ke teras kos, ponsel Kanaya kembali bergetar. Nomor misterius itu mengirim pesan lagi.

“Jangan dekati jembatan. Ada bagian bawahnya yang retak, arus semakin kuat.” Kali ini tubuh Kanaya sempat merinding. Pesannya jauh lebih spesifik, terlalu spesifik untuk dianggap main-main. Dia mencoba menghubungi nomor itu, tapi selalu muncul tulisan ‘Tidak dapat dihubungi’.

Salsa yang melihat wajah Kanaya langsung bertanya, “Ada apa lagi?”

“Kayak, ada orang ngasih peringatan soal jembatan.”

Salsa mengangkat alis. “Ngeri amat, yakin bukan penipuan?”

“Mana ada penipu bahas jembatan retak,” jawab Kanaya, setengah bercanda, setengah cemas. Mereka memutuskan bertahan di kos sampai hujan agak reda. 

Seseorang mengetuk pagar kos dengan keras cepat dan terburu-buru. Kanaya dan Salsa keluar, sedikit was-was. Seorang laki-laki muda berdiri di depan pagar. Bajunya basah, celananya penuh lumpur. Ia memegang helm sambil terengah-engah seperti baru berlari jauh.

“Permisi,” katanya terbata, “siapa di sini yang namanya Kanaya?” 

Kanaya spontan menjawab, “Saya.” 

Ia menghela napas panjang, seperti lega karena menemukan orang yang dicari. 

“Saya dari PU,” katanya sambil menunjukkan kartu identitas yang basah tapi masih terbaca. 

“Tadi pagi kami dapat laporan ada bagian jembatan dekat Pasar Baru yang retak gara-gara arus deras. Saya lihat dari sistem, ada warga yang pernah mengajukan keluhan tentang getaran jembatan bulan lalu, atas nama Kanaya.”

Kanaya terbelalak. Ia baru ingat: sebulan lalu ia memang mengisi form keluhan fasilitas kota karena jembatan itu terasa bergetar saat dilewati motor. Ia bahkan mengira laporannya tidak dibaca siapa pun. Tapi yang membuatnya lebih merinding adalah ia tidak pernah memberi nomor pribadi ke siapa pun ketika mengisi formulir itu.

“Saya ke sini buat kasih tahu secara langsung. Jangan lewati jembatan itu. Pondasinya sudah goyang. Air deras begini bisa makin parah,” lanjut petugas itu.

Salsa melongo. “Lah… jadi pesan-pesan yang Nay dapat tadi bener?” 

Petugas itu bingung. “Pesan? Saya baru ke sini sekarang.” 

Kanaya dan Salsa saling menatap. Jika bukan petugas itu yang mengirim pesan, lalu siapa?

Petugas itu menambahkan pelan, “Saran saya, jangan keluar dari area ini sampai air turun. Jembatan itu bisa runtuh kapan saja.”

Kanaya mengangguk, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, bencana ditambah rasa ketakutan mulai menghantui, warga di sekitar juga terlihat dari raut wajah panik. Hujan baru melemah menjelang sore. Air belum surut, tapi tidak naik lagi. Warga mulai duduk di depan rumah masing-masing, lelah tapi sedikit lega. Suasana sedikit tenang dibanding siang tadi. Kanaya duduk di teras dengan jaket masih dipakainya. Ponselnya sepi, nomor misterius itu tidak mengirim pesan lagi. Tidak satu pun, entah siapa pun itu, entah bagaimana ia tahu soal jembatan itu, peringatannya terbukti menyelamatkan Kanaya dari hal yang tidak ia sadari berbahaya.

Saat langit mulai pecah, warna jingga tipis muncul di sela awan berat. Anak-anak keluar rumah sambil berteriak senang karena matahari akhirnya menampakkan diri. Kanaya menatap langit yang perlahan menghangat. Hari itu tetap berat, tetap melelahkan, tetap membuatnya memikirkan hal-hal yang tidak biasa. Tapi di ujung semua itu, ada perasaan lega yang tidak bisa ditolak. Ia masih belum tahu siapa pengirim pesan itu. Dan mungkin ia tidak akan pernah tahu. Tapi ia sempat berkata pelan pada dirinya sendiri, “Syukurlah aku sempat baca pesan itu.”.

Matahari kembali dan bersama cahaya kecil itu. Kanaya masih duduk di teras ketika warga mulai keluar satu per satu, memastikan keadaan sekitar. Suara air yang mengalir perlahan ke selokan terdengar seperti napas kota yang berusaha menenangkan dirinya sendiri setelah seharian histeris. Kanaya menarik lututnya, memeluknya pelan, membiarkan pikirannya melepaskan satu per satu ketegangan yang menumpuk sejak pagi.

Salsa datang membawa dua gelas teh hangat. “Aku bikin buat kita. Mumpung gas masih aman.”

“Makasi,” balas Kanaya sambil tersenyum kecil.

Belum sempat mereka meneguk teh itu, suara sirine terdengar dari arah ujung gang. Bukan suara ambulans, tapi seperti mobil patroli yang berhenti tepat di depan gang masuk Pasar Baru. Dua petugas turun, memeriksa sekitar, lalu berbicara dengan beberapa warga. Kanaya tidak terlalu memperhatikan setidaknya sampai salah satu petugas melihat ke arah kosnya dan bertanya dengan suara cukup keras,

“Di sini ada yang namanya Kanaya, ya?”

Kanaya dan Salsa langsung menoleh bersamaan. Kanaya mengangkat tangan setengah gugup. “Saya.”

Petugas itu mendekat dengan wajah serius namun tidak mengancam. “Dek, tadi siang ada laporan ke posko bahwa Anda menerima pesan tentang kondisi jembatan retak. Kami ingin mengetahui identitas pengirim pesan itu. Bisa tunjukkan nomor dan isi pesannya?”

Kanaya buru-buru membuka ponselnya. Tapi saat ia membuka riwayat chat, kosong. Nomor misterius itu hilang dari daftar. Tidak ada chat, tidak ada riwayat panggilan, bahkan tidak ada jejak nomor itu pernah ada.

“Lho, padahal tadi banyak pesannya,” gumam Kanaya panik.

Salsa ikut mengecek, memastikan Kanaya tidak salah lihat. “Serius, Pak. Kami berdua lihat pesannya tadi siang. Nomornya itu, bener-bener ada.”

Petugas itu menghela napas. “Begini, Dek. Kami baru dapat kabar bahwa jembatan itu, memang retak sejak pagi. Tapi yang bikin aneh adalah tidak ada satu pun petugas PU yang mengetahui informasi itu sebelum jam tiga sore. Artinya, siapa pun yang pesan ke kamu, dia tahu lebih cepat dari semua orang.”

“Terus, dia siapa?” bisik Kanaya.

Petugas kedua menjawab dengan pelan, “Itu yang ingin kami cari tahu.”

Kanaya semakin bingung. Ia tahu ada orang-orang di kota yang lihai memantau kondisi banjir, tapi orang itu mengirim pesan terlalu spesifik, terlalu tepat waktu, dan terlalu misterius.

Petugas pertama menambahkan, “Satu hal lagi, kami cek sistem laporan fasilitas kota yang kalian gunakan sebulan lalu. Betul, laporan retakan itu dari akun atas nama Kanaya. Tapi…”

Ia berhenti sebentar.

“Akun itu dibuat bukan dari nomor yang kamu pakai sekarang.”

Jantung Kanaya langsung berdegup lebih cepat.

“Ma-maksudnya?” suaranya bergetar.

“Nomor yang terdaftar di sistem bukan nomor kamu. Bahkan bukan nomor yang aktif saat ini. Nomornya sudah tidak digunakan sejak tahun 2021.”

Kanaya menelan ludah. Salsa menatapnya dengan wajah makin pucat.

“Jadi, siapa yang pakai namaku buat lapor?” tanya Kanaya lirih.

Petugas itu menggeleng pelan.

“Tidak tahu. Tapi laporan itu membantu kami menemukan keretakan jembatan lebih cepat. Dan pesan yang kamu terima, mungkin menyelamatkan nyawamu sendiri.”

Matahari sudah naik lebih tinggi, memberi warna keemasan di atas sisa-sisa banjir. Suasana mulai kembali normal, meski masih ada genangan dan lumpur di beberapa titik. Ketika petugas meninggalkan area kos, Kanaya memandangi ponselnya lagi. Ia membuka aplikasi pesan, berharap nomor itu tiba-tiba muncul. Tidak ada. Hanya layar kosong dengan percakapan lain yang tidak penting.

Salsa menepuk pundaknya. “Nay… kalau dipikirin terus, kamu makin takut. Udah… yang penting kamu aman.”

Kanaya mengangguk, meski pikirannya belum benar-benar tenang. Namun saat ia hendak menutup layar ponsel, sebuah notifikasi tiba-tiba muncul. Bukan pesan WhatsApp. Bukan SMS. Melainkan, notifikasi email lama, email yang sudah jarang ia buka.

Subjeknya hanya satu kata:

“Hati-hati.”

Pengirimnya tidak dikenal, waktunya terkirim tiga jam sebelum jembatan itu dinyatakan retak. Kanaya terpaku. Tangannya dingin meski sinar matahari mulai hangat.

“Sa…” panggilnya lirih.

“Iya?” Salsa mendekat.

Kanaya menunjukkan layarnya. Salsa menatap, lalu menutup mulutnya sendiri.

“Ya Allah… Nay, siapa lagi ini?” Kanaya menggeleng pelan.

Dalam kepalanya, hanya satu kalimat bergema ‘Seseorang tahu bahaya itu sebelum siapa pun. Dan entah kenapa memilih memperingatkanku’. Hari itu kota mulai pulih. Tapi untuk Kanaya, satu pertanyaan baru justru lahir dari ketenangan itu. Dan ia tahu jawabannya tidak akan mudah ditemukan. Setelah pesan terakhir dari nomor misterius itu masuk, Kanaya hanya duduk lama di tepi kasur. Ia membaca ulang kata-katanya, pelan-pelan, seolah ingin memastikan bahwa ia benar-benar mengerti maksud si pengirim.

Seorang magang. Seseorang yang bahkan tidak punya kewajiban membuka laporannya. Seseorang yang tidak dikenal, tidak pernah ditemui, tidak punya hubungan apa pun dengannya. Tapi justru orang itu yang lebih dulu cemas tentang keselamatannya hari itu. Kanaya menyandarkan punggung ke dinding. Di luar, suara gemericik sisa hujan terdengar lembut. Lampu-lampu darurat warga memantul di permukaan air yang mulai surut, menciptakan warna keemasan yang tenang. Kota yang sejak pagi kacau itu seperti menarik napas panjang untuk pertama kalinya.

Di tengah ketenangan baru itu, Kanaya merasa dadanya menghangat. Ada rasa syukur yang menumpuk perlahan syukur yang tidak ia sangka muncul dari pesan singkat seseorang yang bahkan lebih muda darinya. Ia mengetik balasan sederhana “Terima kasih. Kamu mungkin pikir tindakanmu kecil, tapi tidak buat aku. Semoga kamu selalu dapat balasan baik.” Ia tidak menunggu jawaban. Tidak masalah kalau tidak ada balasan. Yang penting ia sudah mengucapkan sesuatu yang pantas untuk orang yang sudah peduli diam-diam.

Kanaya menutup ponsel, lalu menatap jendela yang mulai diselimuti embun. Hatinya terasa lebih ringan dari sebelumnya. Bukan karena misterinya sudah terungkap, tetapi karena hari itu mengajarinya sesuatu bahwa di tengah kekacauan, selalu ada tangan tak terlihat yang berusaha menjaga, walau ia tidak tahu siapa orangnya, walau ia mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya.

Dan mungkin memang begitu cara dunia bekerja kadang keselamatan seseorang bergantung pada keberanian kecil orang lain yang tidak pernah disebut namanya. Kanaya tersenyum tipis, sebuah senyum lelah yang akhirnya menemukan alasan untuk hadir. Di dalam, Kanaya merasa hatinya ikut pulih bersama di kota Padang. Hari itu berat, melelahkan, bahkan sempat menakutkan. Tapi hari itu juga mengingatkannya pada satu hal bahwa kebaikan yang tulus sebentar, sederhana, dan tanpa pamrih selalu punya cara untuk menyentuh seseorang sampai ke titik paling lembut dalam dirinya. 

Nia Rahmayuni

Biodata Penulis:

Nia Rahmayuni, lahir pada tanggal 5 September 2005 di Bangkinang, saat ini aktif sebagai mahasiswa, program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Andalas. Ia terlibat di UKPM Genta Andalas.

© Sepenuhnya. All rights reserved.