Sebelum Rindu Menjadi Doa

Cerpen ini menyajikan potret cinta keluarga, yang terpisah jarak Jawa–Kalimantan, serta kehilangan yang perlahan berubah menjadi penerimaan.

Oleh Nur Intan Ramadina

Langit sore di Jawa selalu memiliki warna yang aneh bagiku. Sejak kabar itu datang, semburat jingga di ufuk barat seperti tidak pernah lagi terasa hangat. Ia seperti api yang kehilangan nyala; tetap menyala, tetapi tidak lagi menghangatkan. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang dulu pernah menjadi rumah, meski jaraknya ratusan kilometer dariku.

Cerpen Sebelum Rindu Menjadi Doa

Sesuatu itu adalah Papa Anang. Ayah angkatku, lelaki yang mencintaiku tanpa hubungan darah, tanpa syarat, tanpa jeda.

Namaku Nur Intan Ramadina, berusia dua puluh tahun, mahasiswi semester tiga, Program Studi Bahasa Sastra Indonesia Modern. Aku tumbuh dan besar di Jawa, tetapi separuh cerita hidupku tersimpan jauh di Kalimantan; di rumah yang tidak kutinggali, namun selalu kudiami di dalam dada. 

Di sanalah Papa Anang merantau ke Kalimantan bersama Mama Rini dan adikku, Rafa, bertahun-tahun lalu. Sementara aku tetap tinggal bersama keluarga kandungku di Jawa. Jarak itu seharusnya membuat kami asing, tetapi anehnya, Papa Anang tidak pernah membiarkan jarak memisahkan kasih yang ia tanam sejak aku kecil.

Aku masih mengingat dengan jelas pertemuan pertama kami. Beliau menggendongku pada usia 5 tahun. Rambutku masih dipotong pendek oleh ibuku, dan aku sedang menangis karena terjatuh dari sepeda.

Papa Anang datang sambil tertawa kecil, “Nangis kok manis begini,” katanya.

Sejak hari itu, entah bagaimana, rumah Papa dan Mama menjadi tempat kedua bagiku. Masa kecilku dipenuhi oleh suara tawa Papa. Suara berat yang hangat, yang selalu berhasil membuatku berhenti marah meski hanya dengan memanggil, “Nduk, ayo makan sini!” 

Seakan-akan aku adalah darah dagingnya. Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai anak yang bukan dari rahim istrinya, bukan dari garis keturunannya? 

Tapi Papa Anang menjawabnya tanpa pernah mengucapkan kata apa pun dengan sikap, dengan perhatian, dengan doa yang tak pernah ia suarakan namun selalu terasa.

Ketika aku berusia tujuh tahun, Papa dan keluarganya pindah ke Kalimantan untuk bekerja. Aku tidak ikut. Awalnya aku marah, kenapa mereka pergi dan meninggalkanku? Tapi Mama Rini hanya mengusap punggungku sambil tersenyum, “Papa kerja di sana demi masa depan Rafa,” katanya dengan penuh kelembutan. “Kamu tetap anak kami. Jarak cuma soal peta, bukan soal hati.”

Mereka pergi, dan sejak saat itu hanya telepon yang menjadi jembatan. Papa sering menelepon malam-malam saat ia baru pulang bekerja.

“Nduk, kuliah sing semangat yo. Kapan-kapan ke Kalimantan, Papa tunggu.”

Aku selalu menjawab sambil tertawa, “Iya, Pa. Nanti kalau aku semester tiga.”

Janji itu berulang-ulang kami ulang. Bahkan Papa menuliskannya di dinding rumahnya – kata Mama Rini – sebagai pengingat bahwa suatu hari aku akan datang.

Semester tiga akhirnya datang. Tapi aku tidak pernah berangkat. Karena Tuhan lebih dulu memanggil Papa pulang.

Kabar itu datang pada sore hari. Aku sedang duduk di taman kampus ketika telepon dari Mama Rini muncul di layar ponsel. Suaranya pecah. Tidak biasanya Mama menangis, sehingga tubuhku langsung bergetar.

“Tan… Papa…”

Kalimat itu menggantung, seperti tidak sanggup diteruskan.

Dalam hitungan detik, dunia seperti berhenti bergerak. Suara-suara di sekitarku berubah menjadi dengung jauh, seolah aku berada di dasar air. Yang kupahami hanya satu: Papa tidak ada lagi di dunia ini.

Aku pulang ke kos dengan langkah limbung. Langit sore itu memudar, seperti kain yang dicuci terlalu sering. Serta angin sore yang membawa aroma aneh; aroma perpisahan. Seperti perpisahan yang ingin mengucap selamat tinggal.

Malam harinya, aku tidak menangis. Bukan karena tidak sedih, tetapi karena tubuhku terlalu syok untuk mengizinkan air mata turun. Aku hanya duduk, diam, menatap foto lama Papa di ponselku, foto kami bertiga: aku, Papa, dan Rafa kecil yang dulu selalu menempel di lengannya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengenal jenis kehilangan yang berbeda. Kehilangan yang tidak diberikan kesempatan untuk melihat untuk terakhir kali. Kehilangan yang tidak memberi ruang untuk memeluk atau sekadar mengucapkan terima kasih.

Kehilangan yang meninggalkan rindu yang terlalu besar untuk disimpan, namun terlalu sakit untuk diucapkan.

Tiga hari setelah kepergian Papa, aku memutuskan kembali ke rumah Mama Rini. Namun, bukan ke Kalimantan; tiket pesawat dan keadaan emosiku tidak memungkinkannya. Tapi aku pulang ke rumah lamaku di Malang, tempat Papa sering datang sebelum merantau.

Rafa kini berusia lima belas tahun. Ia tumbuh tinggi, tapi wajahnya tampak sayu. Saat ia membuka pintu dan melihatku, tubuhnya langsung memelukku erat.

“Mbak… Papa selalu nunggu Mbak datang…” ucapnya dengan suaranya pecah.

Aku membalas pelukannya. Kami menangis lama, seperti dua anak yang kehilangan tempat pulang.

Mama Rini duduk di ruang tamu sambil memandangi foto Papa. Wajahnya lelah, tetapi sorot matanya penuh keteguhan.

“Tan… Papa bahagia memiliki kamu,” katanya pelan. “Kamu bukan anak kandung kami, tapi kamu selalu ada di dalam doa Papa. Dia sering cerita tentangmu.”

Dadaku terasa seperti sobek. Aku tidak pernah tahu Papa menyimpan cerita tentangku. Aku tidak pernah tahu ia bangga padaku. Bahkan aku pun tidak pernah tahu rindu bisa terasa sesakit ini.

Hari berganti. Luka tidak hilang, tetapi mulai mencari tempat yang lebih tenang di dadaku. Suatu sore aku duduk sendirian di halaman rumah sambil memandangi langit. Angin berhembus pelan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, aku berani memejamkan mata.

“Pa… aku datang terlambat, ya?” bisikku.

Dalam diam itu, aku seperti mendengar suara Papa tertawa kecil.

“Rindu sing dadi doa, Nduk. Pasti nyampe.”

Aku tersenyum lirih. Untuk pertama kalinya, rindu tidak lagi menyesakkan. Ia berubah menjadi jalan pulang bukan ke Papa, tetapi ke kenangan tentangnya.

Sejak hari itu, setiap melihat langit sore, aku tidak lagi merasa kehilangan. Aku merasa pulang. Karena Papa bukan lagi seseorang yang kutuju. Ia adalah seseorang yang tinggal di dalam diriku. Sebelum rindu menjadi doa, ia berubah menjadi kekuatan. Sebelum doa menjadi air mata, ia berubah menjadi keyakinan. Dan sebelum aku benar-benar bisa melepaskan, aku memahami satu hal: Cinta tidak pernah berakhir. Ia hanya berpindah tempat.

Biodata Penulis:

Nur Intan Ramadina saat ini aktif sebagai mahasiswi, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Modern, di Universitas Muhammadiyah Malang.

© Sepenuhnya. All rights reserved.