Bukit Tawar adalah salah satu cerita legenda rakyat yang berasal dari desa Batu Betumpang, Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bukit Tawar merupakan bukit yang di bawah kaki bukit tersebut terdapat lembah atau kawah air yang berbentuk danau kecil. Air lembah ini mengalir sampai ke permukaan rawa-rawa Sungai Ulim (Sungai bersejarah di daerah Bangka Selatan).
Kawah Bukit Tawar mempunyai tiga tingkatan air. Tingkatan ketiga inilah konon yang dianggap masyarakat Batu Betumpang dapat menjadi penawar berbagai penyakit yang dahulunya menjadi wabah di desa tersebut.
Pada suatu masa, di Desa Batu Betumpang, hiduplah seorang sesepuh kampung yang bernama Bujang Pilas. Bujang Pilas ini dikenal sebagai tokoh adat petuah atau sesepuh kampung yang suka menolong. Beliau menetap di sekitar Bukit Tawar. Kegiatan Bujang Pilas yang menjadi tauladan kampung itu adalah menjaga kelestarian Bukit Tawar.
Di sela kegiatannya sebagai sesepuh desa, Bujang Pilas bercocok tanam, berburu kancil, mencari ikan, mencari rotan, kadang mencari damar dan gaharu. Tidak ada kamus bersantai dalam kehidupannya. Bujang Pilas selalu memanfaatkan waktunya dengan kegiatan yang dapat menunjang kehidupannya.
Kehidupan Bujang Pilas yang bersahaja, seakan menyatu dengan alam. Menjaga alam adalah kewajiban sebagai bentuk penghambaan kepada yang Maha Pencipta. Alam merupakan modal utama untuk menunjang keberlangsungan kehidupan bersama. Menjaga kelestarian alam bagaikan menjaga diri sendiri. Dari alamlah sumber kehidupan mereka berasal, sehingga keterikatan dengan alam begitu kuat.
Penduduk desa Batubetumpang merupakan orang-orang yang bersahaja dengan alam. Kehidupan mereka yang sebagian besar bertani dan nelayan, menjadikan penduduk desa melakukan berbagai cara untuk bersyukur terhadap rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka, di antaranya dengan mengadakan sedekah bumi.
“Datuk mau ke mana?” tanya seorang Ibu pada Bujang Pilas.
“Eh, Bibik , saya mau ke bukit sana, sepertinya sedang musim ikan di sungai lereng bukit itu.” Bujang Pilas menunjuk lereng bukit yang dialiri sungai di bawahnya.
“Iya, Datuk, semoga mendapat ikan banyak.” Ibu yang membawa keranjang sayur itu berlalu, seakan ingin cepat sampai ke rumahnya. Hal ini dilihat oleh Bujang Pilas. Bujang Pilas dapat melihat gestur Bibi itu yang seakan mendapat masalah.
“Bibik, tunggu dulu, kenapa bibik buru-buru?” tanya Bujang Pilas.
“Eh, itu Datuk, cucu saya diserang demam tinggi, ini saya mau melihat kondisinya. Tadi sebenarnya mau memberitahukan hal ini pada Datuk, tapi berhubung Datuk mau mencari ikan, jadinya saya tidak berani mengganggu.” Bik Mela bicara seketika setelah menghentikan langkahnya yang buru-buru tadi.
“Kalau begitu, mari, saya ikut Bibik.” Bujang Pilas menawarkan bantuan dengan takzim. Bik Mela pun mengiyakan. Mereka pergi bersama-sama menuju rumah cucunya.
“Syukurlah, Nek Mela datang, cucu Nek Mela sungguh mengkhawatirkan. Suhu tubuhnya begitu panas, sampai dia mengigau.” Tetangga Nek Mela mengabarkan tergesa.
“Aku bersama Datuk Bujang Pilas, barangkali beliau mau melihat keadaan cucuku, mari Datuk, masuklah!” ucap Nek Mela takzim.
“Baik Bibik, kulihat dulu keadaannya.” Datuk pun masuk ke dalam, melihat cucu Nek Mela yang terbujur dengan geliatan, serta kelopak mata yang terlihat hanya putihnya saja. Ini akibat demam tinggi yang dialaminya. Gadis sebelas tahun itu seperti begitu kesakitan. Ada bintik-bintik merah di sekitar kakinya.
Datuk menyuruh keluarga menyiapkan air bersih yang diambil langsung dari sumber air yang diletakkan dalam wadah putih polos. Untunglah ada mangkuk porselin, diletakkanlah air itu di sana. Jenab, ibunya Dayang, cucu Nek Mela itu pun membawakan air bening itu ke hadapan Datuk Bujang, sedangkan Dul Kemit, ayahnya Dayang, disuruh mencari batang pahit yang melilit seperti akar di pohon, madu, serta telur burung kroak.
Dengan segala kekuatan dan keikhlasannya, Datuk merapalkan doa dan jampi agar Dayang segera pulih. Datuk meraupkan air yang sudah dijampi dan dibacakan doa-doa tadi ke wajah dan seluruh tubuh Dayang. Gadis itu menggeliat, seperti menggelepar. Kemudian senyap. Ibunya, Jenab sampai menjerit menyaksikan keadaan anaknya.
“Tidak apa-apa, Cik, kita tunggu Bapak Dayang membawa ramuan obat. Semoga dengan mengonsumsi itu, sakitnya bisa sembuh total.” Bujang Pilas membujuk.
Sepertinya, suhu badan Dayang mulai berangsur turun. Sekarang dia dapat membuka matanya. Bujang Pilas pun memberikan aturan mengonsumsi ramuan obat bila sudah datang, Datuk akan pergi ke sungai yang sempat tertunda tadi.
Keesokan paginya, matahari belumlah menampakkan sinar garangnya dengan sempurna, tetapi sudah ada beberapa orang yang mendatangi kediaman Datuk. Ada yang mohon anaknya disembuhkan, karena tiba-tiba berteriak-teriak takjelas. Ada yang lehernya kaku seperti keseleo, setelah mereka mencela dan berkata tak senonoh saat menjaring ikan di sungai dekat bukit.
Datuk yang bijaksana itu tetap mengobati mereka yang datang ke rumahnya dengan sabar. Datuk berpesan agar jangan lagi berbuat di luar kendali. Alam itu ciptaan Tuhan, bisa saja mereka murka sebab kata-kata makian kita di dekat makhluk-makhluk hutan itu. Setelah diusap dan diurut Datuk, maka keadaan para Bapak tadi sudah lebih baik.
Datuk berpesan, semua yang dilakukannya adalah karena kemurahan yang menciptakan kita. Tanpa bantuan-Nya, maka tangan Datuk takkan berguna apa-apa. Maka jangan menjadi sombong bila diberi kelebihan.
Belum lama para Bapak berlalu dari rumah Datuk, datang lagi Tetua Adat mengatakan kalau beberapa penduduk di Desa Batubetumpang terkena penyakit yang sama dengan Dayang, bahkan si Ujang, pemuda tanggung di desa, tiba-tiba panas tinggi, kejang-kejang, kemudian meninggal dunia sebelum sempat diobati. Padahal malam harinya masih belum sakit, Cuma agak lesu.
“Ayoklah Datuk, tolong dilihat dulu warga kita. Setiap rumah rata-rata ada seorang yang sakit. Wabah ini begitu cepat menyebarnya, belum pernah sebelumnya ada wabah seperti ini. Si Ujang tadi meninggal dalam keadaan menyedihkan, setelah muntah darah, dari seluruh pori-porinya timbul seperti ruam darah.” Tetua Adat menjelaskan panjang lebar.
“Takutnya bila wabah ini menjangkiti seluruh penduduk, Datuk,” timpal pemuka adat yang lain. Mereka mempercayakan penanganan wabah ini pada Sesepuh Kampung mereka, yang dituakan dan terbukti banyak menolong warga selama ini. Siapa tahu karena karomah tangan bertuahnya, dapat menolong para pendududk yang terlanjur terjangkit wabah serta mencegah yang belum tertular.
Tetiba, datang sekelompok orang yang selama ini kurang suka dengan keberadaan sesepuh kampung itu. Mereka lebih ke arah iri, Datuk banyak disanjung dan diberi hadiah.
“Wahai Tetua Adat, Datuk Bujang Pilas itu bukanlah Tuhan! Kalian selalu memintanya menyelesaikan masalah. Siapa tahu ini adalah akal-akalan Datuk untuk mencari keuntungan semata. Siapa tahu penyakit ini adalah karena racun yang ditebarkannya!” Pimpinan kelompok orang yang datang itu memaki Datuk.
“Wahai Ujang, sungguh lancang mulutmu memfitnah orang dengan tuduhan yang tak berdasar. Padahal kau pun tahu, bila selama ini yang sering dimintai penduduk untuk menolong kesusahan mereka ialah Datuk Bujang Pilas. Sedang engkau, jangankan menolong, bahkan tiap hari kerjamu minum tuak, hingga wajahmu pun menghitam!” marah Tetua Adat pada Ujang, pengangguran yang selalu bikin onar di kampung.
“Halah, kalian sama saja, menganggap kakek ini Tuhan!” Si Ujang bersikukuh.
“Tidak ada yang ingin dikatakan sebagai Tuhan, Manusia itu hidup dan mati dari seluruh perbuatannya. Bila dia baik, maka akan meninggalkan alam ini baik-baik saja. Bila dia buruk, maka kejelekanlah yang akan ditanggung dalam segenap kehidupan setelahnya. Bersikap bijaklah dalam berucap, semua akan kembali pada kita.” Datuk menasihati mereka.
Belum berapa lama dari perkataan Datuk, tiba-tiba Ujang takdapat bicara lagi. Hanya bunyi ak uk ak uk saja yang terdengar, saat dia akan membalas perkataan Datuk. Para pemuda yang lain segera mengerubungi Datuk, meminta beliau untuk menormalkan Ujang. Orang yang takdapat bicara itu malah berteriak kencang. Tiba-tiba dia bersimpuh di kaki Datuk.
“Tolonglah dia Datuk, kami sadar, ternyata Datuk adalah orang yang berkaromah. Maafkan teman kami yang merasa iri terhadap Datuk.” Teman Ujang meminta Datuk dengan berlutut.
Karena rasa kemanusiaan, akhirnya datuk menengadahkan tangannya untuk berdoa, datuk juga memberikan air jampi untuk diminum Ujang. Perlahan, kesadaran Ujang menjadi normal. Beberapa menit kemudian, Ujang bersimpuh di kaki Datuk.
“Bangunlah, jangan diulangi lagi prasangka buruk itu, sebab akan menyakiti dirimu sendiri.” Datuk menasihati Ujang.
“Baik, Datuk, maafkan saya.” Ujang membungkukkan badannya.
Setelah menyelesaikan masalah dengan para pemuda itu, Datuk bijaksana yang telah berusia 63 tahun itu pun mengikuti Tetua Adat mengunjungi kampung. Mereka ingin memastikan sejauh mana wabah itu menyebar. Ternyata, dalam sebentar saja wabah sudah menyebar pada separuh warga.
Melihat wabah yang begitu membahayakan, warga menjadi resah, seluruh penduduk berupaya mencari penawarnya, termasuk meminta bantuan Datuk untuk menetralisir kekacauan ini.
“Datuk, tolong bantulah kami.” Begitulah perkataan yang senantiasa didengar Datuk, saat berpapasan dengannya.
Karena begitu banyaknya warga yang sakit, beliau begitu kewalahan jika harus memberikan air jampi pada mereka satu persatu. Maka, akhirnya Datuk berinisiatif mencari air yang masih belum tercemar untuk memanjatkan doa dan jampi-jampi mengobati warga. Bujang Pilas pergi ke sebuah lembah di bukit yang biasa digunakannya untuk mencari ikan. Bujang Pilas duduk di sebuah batu di tengah lembah, meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa.
Dalam permohonanya, Datuk meminta agar Yang Maha Kuasa menyembuhkan penyakit yang melanda kampung mereka. Turunlah ilham agar Datuk membacakan doa-doa jampi di air lembah itu. Doa yang dipanjatkan untuk kebaikan serta keselamatan. Doa penawar itu dibacakan di air lembah bukit.
Setelah selesai, Datuk dan Tetua Adat memberitahukan pada penduduk untuk mengambil air bukit yang telah dibaca doa penawar itu sebagai penawar sakit mereka. Mereka harus mengambil air dengan daun simpur. Daun simpur ini adalah sejenis tanaman hutan berdaun lebar dan bunganya berwarna kuning. Daunnya yang lebar dimanfaatkan masyarakat untuk pembungkus makanan. Bahkan di zaman dahulu, daun simpur ini menjadi tanaman yang digunakan untuk pengobatan penyakit kulit, seperti panu dan kadas.
Masyarakat yang telah menunggu, kemudian diminta untuk pergi ke lembah bukit, mengambil air penawar yang telah dijampi dengan daun simpur untuk mengobati mereka yang sakit. Maka berbondon-bondonglah mereka pergi ke lembah bukit itu, mengambil air penawar di sana, memberikannya pada si sakit.
Karena perantara air penawar ini, akhirnya wabah penyakit di desa Batubetumpang perlahan menghilang. Kampung pun kembali damai. Setiap ada yang sakit, penduduk selalu mengambil air bukit itu untuk menjadi perantara pengobatan.
Karena kejadian inilah akhirnya penduduk menamai bukit yang airnya mereka ambil untuk perantara pengobatan dengan nama Bukit Tawar. Asal kata dari penawar atau penyembuh. Hingga kini, Bukit Tawar ini masih menyimpan cerita tentang karomah airnya untuk lantaran obat sakit.
Sumber: "Berpetualang Melalui Dongeng Rakyat" penerbit AFF Publisher cabang Bandung.
Penulis:
Ummi Sulis, guru SDN 3 Pulau Besar. Cerita ini disarikan dari alm. Bapak Ruslan, warga dan pegawai kecamatan Pulau Besar sebelum beliau meninggal dunia.