Permainan Dunia di Balik Meja Kerja

Cerpen ini menghadirkan refleksi seorang pekerja muda yang sibuk dengan dunia, namun akhirnya tersadar akan pentingnya ibadah.

Oleh Nayla Shafwa Meldi

Matahari sudah mulai menutup diri, tidak ada siapapun di ruangan sekarang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.00. Di sana Rafa tengah duduk bersama laptop kesayangannya yang masih menyala ditemani dengan tumpukan berkas yang terlihat seperti gunung yang enggan untuk selesai didaki. Target bulanan semakin dekat, dan supervisor-nya terus menekan agar laporan diselesaikan sebelum minggu berakhir. Rafa menarik napas panjang, ia merasa bingung dan lelah tetapi juga harus menyiapkan semuanya.

Cerpen Permainan Dunia di Balik Meja Kerja

Dari jendela di ruangannya dia dapat melihat orang-orang berhamburan keluar dari sebuah masjid di depan kantornya, semua orang sibuk dengan kegiatannya ada yang mencari sandalnya, ada yang saling menyalami untuk silaturahmi, ada yang terburu-buru untuk kembali kerumahnya dan ada yang yang segera kembali ke tempat jualannya. Rafa sadar bahwa setiap orang punya kegiatannya masing-masing tetapi mereka tetap menyempatkan diri untuk beribadah dan mengingat Tuhannya.

Rafa sendiri bahkan belum salat dari tadi pagi dan hanya sibuk berkutat di depan laptop dengan tumpukan kertas yang ada di depan matanya. Sejak bekerja di perusahaan, hidup Rafa hanya berkisar pada pekerjaan: datang pagi, lembur malam, tidur sebentar, lalu ulang lagi. Ia menolak ajakan teman untuk kajian, menunda salat dengan alasan “nanti kalau sudah longgar”, yang berakhir dia melupakan salatnya bahkan jarang pulang ke rumah orang tuanya.

Saat sedang merenung, sesuatu membuatnya berhenti sejenak. HP-nya bergetar. Ada sebuah pesan dari ibunya yang masuk:

“Nak, gimana kabar kamu? Apa kamu sudah salat? Sudah makan? Jangan lupa makan dan salat ya, boleh mengejar dunia tapi jangan lupakan kewajiban kamu sebagai umat Islam ya sayang, jangan terlalu capek mengejar dunia. Ibu ada baca sebuah ayat hari ini: ‘Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan sungguh, akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa…’ (Al-An’am: 32). Diamalkan ya nak ayatnya. Jaga iri kamu di sana."

Rafa terdiam. Ia memandang semua berkas yang tertumpuk serta layar laptop yang dipenuhi dengan grafik dan laporan. Ia menatap kosong ke mejanya, apa yang selama ini dia kejar dengan sedemikian rupa, pujian? Jabatan tinggi? Bonus atau liburan akhir tahun?

Sudah berapa banyak waktu salat yang dia tinggalkan untuk mengejar ini semua. Sudah berapa banyak waktu yang ia buang hanya untuk mengejar posisi yang bahkan tidak akan membersamainya di akhirat kelak. Dunia terasa begitu berat baginya karena dia memeluk dunia begitu erat.

Rafa menyandarkan kepalanya di kursi, menutup mata mendengarkan dengung AC. Kali ini dia juga merasa kosong tetapi juga lega dan sadar akan sesuatu. Rafa berdiri mengambil langkah menuju toilet untuk berwudhu, di sudut ruangan yang sepi Rafa menunaikan salat yang sudah lama ia tinggalkan. Saat sujud ia merasa pundaknya lebih ringan seolah-olah semua beban yang selama ini ia tanggung terlepas dari pundaknya.

Rafa kembali ke mejanya setelah melaksanakan salat, laporannya masih menunggu tetapi kali ini dia mengerjakannya dengan perasaan yang berbeda, ada perasaan lega. Pekerjaannya memang penting tetapi itu bukanlah segalanya. Rafa akan bekerja dengan baik tapi jangan sampai melupakan tujuan akhirnya.

Perjalanan dunia tetap harus dijalani, ada tekanan, ada tugas, ada target. Tapi kini dia sadar bahwa itu semua hanya bagian dari permainan dunia yang harus kita jalani. Dunia memang menawarkan banyak hal seperti persaingan, pujian, kegembiraan, kepedihan tapi semua itu tidak bertahan lama. Semuanya seperti permainan: kadang menang, kadang kalah, tetapi akhirnya selesai juga.

Namun ada satu hal yang membuat hari itu berarti: kesadaran bahwa dunia bukan sesuatu yang harus ia genggam keras-keras. Kadang, cukup dijalani tanpa lupa bahwa semuanya hanya sementara sama seperti senja yang indah, lalu pelan-pelan menghilang.

Biodata Penulis:

Nayla Shafwa Meldi saat ini aktif sebagai mahasiswa di UIN Syech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam.

© Sepenuhnya. All rights reserved.